Jagalah Putri Kecilku, Yaa Allah (1)

Jagalah Putri Kecilku, Yaa Allah (1)

“Berdasarkan hasil rapid tes yang sudah kami lakukan, putri Anda positif terkena virus Covid 19.”

Penjelasan dokter Angga, dokter anak di rumah sakit pemerintah itu, membuatku terpaku tak percaya. Rasanya gelap tiba-tiba menyelimuti pandanganku, lemas tubuhku menopang raga yang terasa seperti membeku.

Mia, putri kecilku satu-satunya, harus mengalami nasib yang mengenaskan. Positif terkena virus Covid 19 di usinya yang masih lima tahun. Pernyataan dokter Angga seperti mimpi buruk bagiku. Aku terkulai lemah di atas lantai dingin rumah sakit.

Dokter Angga segera memapahku menuju kursi tunggu, tak jauh dari tempat kami.

“Maaf jika saya harus menyampaikan ini tanpa basa-basi. Kondisi putri Anda yang mengalami ciri Covid 19, membuat pihak rumah sakit langsung memeriksa keadaannya dan melakukan rapid tes. Apakah putri Anda pernah berhubungan atau terpapar dengan pasien penderita Covid 19, ODP atau PDP sebelumnya?”

Meski keadaanku masih belum bisa menerima hasil yang disampaikan dokter Angga, tapi otakku langsung bisa berpikir dengan pertanyaan dokter muda itu?

Kembali ingatanku kembali pada waktu beberapa hari yang lalu. Sekitar tiga hari yang lalu, keluarga kecil kami kedatangan paman dan bibi dari suamiku yang bertandang ke rumah kami. Mereka tinggal di Jakarta dan berencana tinggal untuk sementara waktu di rumah anak mereka yang rumahnya tak jauh dari tempat kami tinggal.

Setelah himbauan pemerintah untuk melakukan lock down dan tinggal di rumah saja, keluarga kecilku mematuhi himbauan tersebut. Tak keluar rumah jika tidak dalam kondisi darurat, seperti berbelanja kebutuhan pokok atau membeli vitamin ke apotek.

Itu pun jika aku dan suamiku harus keluar rumah, dengan pengamanan yang lengkap, seperti memakai masker, sarung tangan dan kaos kaki serta pakaian tertutup. Terkesan berlebihan memang, tapi mengingat virus Covid 19 yang tak bisa dianggap remeh, apalagi kami memiliki putri yang masih berusia balita, kami harus melakukan pengamanan tersebut.

Sepulang dari luar rumah, semua perlengkapan yang kami pakai langsung direndam dengan sabun, dan kami mandi besar. Bahkan sandal yang kami pakai pun langsung kami cuci bersih. Hingga tak ada kesempatan si virus itu menempel di sekitar rumah kami.

Sejak himbauan di rumah saja itu, suamiku pun mulai bekerja dari rumah. Sebagai seorang regional sales manajer area Jawa Barat yang berada dalam naungan sebuah perusahaan telepon seluler terkemuka, suamiku mulai diperintahkan untuk melakukan pekerjaan dari rumah via online.

Hampir dua Minggu kami berada di rumah. Pintu dan pagar rumah selalu tertutup rapat. Aktivitas kami lakukan di dalam rumah. Awalnya memang begitu membosankan, tapi seiring waktu kami mulai terbiasa mengurung diri di dalam rumah.

Namun, saat paman dan bibi suamiku datang, sejak saat itulah kondisi Mia mulai memperlihatkan gejala sakit demam, batuk pilek dan bahkan sesak napas. Aku dan suamiku merasa prihatin dengan keadaannya yang semakin memburuk dalam waktu dua hari.

Meskipun sudah diobati dengan resep yang diberikan dokter langganan, yang sengaja aku telepon saat pertama Mia menunjukkan gejala sakit, tapi kondisinya tak juga membaik. Aku dan suamiku sepakat membawanya ke rumah sakit yang kebetulan tak begitu jauh dari komplek perumahan kami.

Sesampainya di sana, pihak rumah sakit menyarankan membawa putri kami ke rumah sakit pemerintah yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Dengan membawa surat rujukan dari dokter di rumah sakit, kami membawa Mia yang makin lemah ke rumah sakit pemerintah.

Sesampainya di sana, Mia langsung ditindak. Dokter mengatakan akan melakukan tes pada Mia karena melihat kondisinya yang memperlihatkan gejala Covid 19. Aku terkejut saat itu. Berharap dan berdoa semoga hasilnya negatif dan Mia hanya menderita demam dan batuk pilek biasa.

Dalam kepanikan dan kekalutan kami saat itu, suamiku di telepon Hasan, anak lelaki dari paman dan bibi yang baru datang dari Jakarta itu, mengabarkan jika bibi Aminah dirawat di ruang isolasi karena terinveksi virus Covid 19.

Hatiku luruh. Harapan untuk Mia tidak mengalami sakit akibat virus yang tengah mewabah itu, Kini seakan sirna. Itu artinya, Mia sudah terpapar dari bibi Aminah yang sudah positif Covid 19.

Sembari menunggu hasil rapid tes, suamiku pulang ke rumah untuk mengambil perlengkapan Mia selama di rumah sakit, yang belum sempat kami bawa karena terburu-buru.

“Bu Alya….”

Panggilan dokter Angga sayup-sayup kudengar. Aku menoleh ke arahnya yang tangah menatapku khawatir.

“Ibu menyimak pertanyaan saya?” tanyanya meyakinkan.

Aku mengagguk lemah.

“Bibi dari suami saya, positif Covid 19 dan sekarang tengah dirawat di ruang isolasi. Tiga hari yang lalu, ia dan suaminya datang ke rumah. Mereka dari Jakarta dan akan tinggal di rumah anak mereka, yang rumahnya tak jauh dari tempat kami tinggal,” terangku menjelaskan.

Dokter itu tampak mengernyitkan dahi.

“Kalau begitu, putri Anda kemungkinan terpapar dari paman atau bibi Anda sebagai penderita covid 19. Maaf Bu, dengan sangat terpaksa, kami harus mengisolasi putri Anda di ruangan khusus pasien Covid 19. Selain itu, pihak rumah sakit akan memeriksa orang-orang yang berhubungan langsung dengan penderita.”

“Bagaimana nanti putri saya, Dok? Bagaimana jika ia mencari ibu dan ayahnya?” tanyaku mulai khawatir.

“Ibu tenang saja. Kami akan merawat putri Anda dengan sebaik-baiknya. Ini memang berat untuk putri Anda begitu pun untuk Anda dan suami sebagai orang tuanya, tapi hal ini sudah menjadi prosedur, jika penderita Covid 19 harus diisolasi. Tak boleh sia pun menungguinya, baik itu ibunya sekalipun.”

“Putri saya masih terlalu kecil untuk berjauhan dengan saya, apalagi dalam keadaan sakit seperti sekarang.”

“Memang tak mudah untuk melakukan ini. Tapi percayakan pada tim kami untuk merawat putri ibu dengan sebaik-baiknya. Ibu dan suami berdoa saja untuk kesembuhan dan kesehatan kembali putri Ibu.”

Setelah berkata begitu, dokter Angga mohon pamit untuk mengurus pasien yang lain. Aku masih terpaku di tempatku duduk. Meratapi nasib putri satu-satunya yang harus menderita sendirian di ruangan isolasi rumah sakit, tanpa aku ibunya.

“Yaa Allah, kuatkanlah aku menghadapi cobaan ini. Aku tak bisa menjaganya saat ini, tolong jagalah ia untukku, Yaa Rabb.”

Dengan linangan air mata, aku menunggu suamiku datang. Ingin segera mengabarkan padanya tentang kondisi putri kami. Ingin berdoa bersama untuk kesembuhan putri kecil kami yang tahun ini akan memasuki sekolah taman kanak-kanak.

rumahmediagrup/bungamonintja

2 comments

Comments are closed.