Jangan Jadi Bucin!

Jangan Jadi Bucin
.
Satu tahun terakhir istilah bucin atau budak cinta menjadi familiar di masyarakat, khususnya kalangan milenial. Istilah bucin lebih pada konotasi negatif, karena para bucin ini akan menjadi individu yang terobsesi pada cinta lawan jenis yang sesaat. Apalagi mereka bersosialisasi hanya dengan figur yang dicintai dan diidolakan. Apapun demi si dia pasti dijalani, entah harus berbasah kuyup mengejar cinta ataupun harus nyungsep nyebur selokan asal untuk cinta, semua wajib dilakoni.
.
Memang menjadi bucin ini sangat rawan sekali. Pergaulan bebas, hamil diluar nikah, tragedi buang bayi sampai aborsi menjadi hal yang sangat lumrah saat ini. Nah, Islam memberikan solusi untuk umatNya jika sudah tidak kuasa memendam cinta dengan menikah. Bagaimana jika para bucin ini adalah anak-anak yang usianya masih belasan dan masih duduk dibangku sekolah, yang untuk menikah adalah hal yang sangat jauh. Ya, meskipun namanya jatuh cinta adalah fitrah, tapi tidak semua cinta harus dipenuhi. Maka bagi para bucin ini apa yang harus dilakukan jika cinta itu muncul sebelum waktunya?
.

  1. Membersihkan diri dari segala bentuk cinta, memutuskan hubungan yang tidak halal, kemudian bersuci dan melakukan taubatan nasuha.
    .
  2. Allah perintahkan untuk menahan pandangan dan memperbanyak puasa sunnah bagi para lajang.
    Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa mampu membiayai pernikahan hendaklah menikah, karena nikah lebih menahan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa tidak mampu menikah, hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah wija’ (mengendurkan gejolak syahwat) baginya,” (Diriwayatkan Al-Bukhari).
    .
  3. Menghindarkan diri dari segala hal yang bisa membangkitkan syahwat. Menghilangkan semua memori dengan si dia. Serta menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat serta terus mendekatkan diri kepada-Nya.
    .
  4. Keluar dari komunitas bucin dan bergabung dengan para pejuang hijrah. Terus berproses menjadi yang lebih baik, sehingga Allah memantaskan kita untuk mendapatkan jodoh yang terbaik. Bukankah Allah berfirman:
    Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (QS. An-Nuur: 23-26). Ayo berubah, tidak ada kata-kata terlambat untuk menjadi baik. Baik berjamaah itu lebih kuat dan indah daripada baik sendiri. Keep fighting. []Endah Sulistiowati – Direktur Muslimah Voice

Rumahmediagrup/endahsulis123

One comment

Comments are closed.