Jangan Syukuri Apa yang Ada

Jangan Syukuri Apa yang Ada

Wah, gimana nih, Thor? Masa jangan mensyukuri apa yang ada? Mau kufur nikmat apa gimana, sih? Apa maksudnya?

Haha. Tenang, tenang. Jangan emosi dulu ya, saudara-saudara, Sobat sekalian. Baca dulu penjelasannya di bawah ini.

Bersyukur itu wajib dan harus. Mau di saat senang maupun susah, ya kan? Biar apa? Biar Allah menambahkan nikmat-Nya untuk kita. Begitu, kan? Betul? Betul, dong! Kata pak ustadz juga gitu, kok.

Lanjut.

Ketika kita diberi kesenangan, wajib selalu bersyukur. Sebab kesenangan itu selama kita masih berada di dunia, artinya masih diberi ujian. Kesenangan yang hakiki itu sendiri adalah kesenangan yang nantinya kita dapatkan di akhirat yang berupa …. Berupa apa, Sobat?

Berupa surga. Yang penuh dengan kesenangan-kesenangan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh manusia. Jika di dunia ada orang kaya raya, tajir melintir, punya istana mewah, mobil mentereng, perabotan bersepuhkan emas, tempat tidur bertahtakan berlian seperti para raja dan kaisar, maka di surga kesenangan di dunia itu nyatanya hanya seujung kuku saja. Masih jauh dari standar surga. Dahsyat, kan?

Oleh karenanya jika kita ingin mendapatkan kesenangan yang maha dahsyat itu maka jangan cuma sekadar mensyukuri apa yang ada. Tetapi bentuk syukur itu bisa kita tambahkan lagi dengan terus berupaya, lagi dan lagi. Agar yang kita dapatkan lebih banyak lagi dan kadar syukur kita juga terus bertambah.

Pernah dengar cerita Thalhah bin Ubaidillah ra? Sahabat Rasulullah Saw yang dijuluki “Thalhah si Dermawan”. Orang sampai menjulukinya demikian pasti karena ada prestasi dari Thalhah bin Ubaidillah ra yang prestisius, yang tidak biasa-biasa saja.

Apa prestasi luar biasanya? Gemar membagi-bagikan hartanya hingga habis tak bersisa, bahkan tiada meninggalkan sepeser pun bagi dirinya untuk sarapan esok hari. Thalhah bin Ubaidillah ra tak pernah mau menyimpan sedikit pun harta sebelum ia pergi tidur di malam hari.

Apa yang mendasari Thalhah bin Ubaidillah ra berbuat begitu? Tak lain dan tak bukan karena ia pernah mendengar sabda Rasulullah SAW.

Siapa yang suka melihat seorang laki-laki yang masih berjalan di muka bumi, padahal ia telah memberikan nyawanya, maka hendaklah ia memandang Thalhah …. ” Rasulullah SAW lalu menunjuk kepada Thalhah bin Ubaidillah ra yang berada tak jauh dari beliau.

Sebelumnya Rasulullah Saw membacakan satu ayat dari Alquran, “Di antara orang-orang mukmin itu terdapat sejumlah laki-laki yang memenuhi janji-janji mereka terhadap Allah. Di antara mereka ada yang memberikan nyawanya, sebagian yang lain sedang menunggu gilirannya. Dan tak pernah mereka merubah pendiriannya sedikit pun juga.”(QS. Al Ahzab, 33: 23)

Ramalan Rasulullah SAW yang memberitahukan bahwa Allah SWT sudah menetapkan surga baginya sekalipun dirinya masih hidup, tak ayal hal ini menumbuhkan rasa bahagia yang tiada terkira dalam dada Thalhah bin Ubaidillah ra. Siapa yang takkan merasa bahagia bila Sang Pemilik alam semesta sudah memilihnya menjadi salah satu penghuni surga-Nya? Hatinya langsung bergemuruh, dadanya membuncah, seolah ingin meledak karena kebahagiaan yang luar biasa.

Maka sebagai wujud rasa syukur yang tak sekadar menerima apa yang ada dalam genggamannya saat itu, Thalhah bin Ubaidillah ra segera bangkit dan terus berupaya memantaskan dirinya sebagai salah satu calon penghuni surga-Nya. Sekecil apa pun nikmat yang Allah berikan, segera dibaginya pada saudara sesama muslim tanpa sisa. Istri tercintanya sendiri, Su’da binti Auf yang menjadi saksi langsung tentang bagaimana dermawannya Thalhah bin Ubaidillah ra.

Dalam urusan menjalankan syariat Islam pun, Thalhah bin Ubaidillah selalu berada di garda terdepan bersama Rasulullah SAW. Begitu pula saat perang Uhud berkecamuk dan ia melihat Rasulullah SAW berada pada posisi terancam. Dia mengikhlaskan diri menjadi perisai hidup bagi beliau. Tak ada rasa takut saat pedang di tangannya telah terhunus. Yang terbayang di pelupuk matanya hanyalah satu kerinduan. Kerinduan menjemput syahid dan berjumpa dengan Sang Kekasih di dalam surga-Nya yang kekal abadi. Dia tak sabar untuk segera memenuhi undangan mulia tersebut. Masya Allah.

Jadi, jangan hanya mensyukuri apa yang ada. Merasa cepat puas akan menumpulkan daya juang kita tentang hidup dan tentang mempersiapkan bekal untuk di akhirat. Tapi terus berupaya memantaskan diri agar syukur yang kita persembahkan adalah wujud syukur yang benar-benar terbaik, sebelum Dia memanggil kita.

Wallahu alam bishowab.

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah