Jauhi Korupsi

Oleh : Allys Setia Mulyati

Bulan Oktober di hari ke lima yang ditunggu Mirza pun tiba. Hari di mana dia akan melangsungkan akad janji sehidup tidak semati. Tapi pada dasarnya sebuah pernikahan yang suci diawali dengan menjaga pertemuan intens, sehingga mewujudkan segala cinta hanya menurut rida-Nya.

Siapa sangka Firda ternyata menyimpan hati pada Mirza, lelaki dari kelas menengah, yang bekerja sebagai karyawan di kantor Asuransi terkenal di Jakarta.

Semua yang kenal Firda, bahkan memberi sumpah serapah, kasihan pada calon suaminya nanti, karena sikapnya yang selalu ingin tampil “wah” dimata orang-orang yang melihatnya. Mirza yang sudah terlalu cinta, tidak mau mendengar omongan bisik-bisik tetangga.

Pesta pun digelar, dengan biaya dari tabungan Mirza hasil bekerja selama beberapa tahun. Dengan hadiah naik jabatan dari pihak pimpinan kantor, menambah kesyukuran di hati Mirza, rasa bersyukur yang teramat sangat.

Apalagi Firda yang memang suka mengincar harta, walaupun di sisi lain termakan cinta karena Mirza yang memang berperawakan gagah berwajah tampan telah mencuri hatinya.

“Bagaimana seorang suami bisa tahan, bisa jadi dia pasti menakar harga untuk biaya hidupnya setiap hari, demi mengejar dan mendapat segala keinginan dirinya”

“Wah, sudah pasti kalau itu-mah, bukan-kah setiap hari kerjanya hanya shoping dan shoping saja ke kota”

Perbincangan hangat yang sedang marak terjadi setelah dilangsungkannya perhelatan acara pernikahan Firda dan Mirza di gedung balai kota.

Seminggu, dua Minggu, sebulan, dua bulan telah berlalu. Bunga-bunga bertebaran indah masih dirasakan oleh pasangan yang baru menikah itu. ada yang terlihat berbeda dengan Firda. Makin cantik iya, karena kini jajahannya di tambah untuk perawatan di salon oleh dokter kecantikan.

Mirza selalu memberikan apa yang di inginkan istrinya itu, termasuk perhiasan, berlian, emas, pakaian mewah, siapa yang tidak bahagia diperlakukan bak permaisuri di kerajaan antah berantah itu.

Memasuki pernikahan ini di bulan ketiga, pas tanggalnya tepat di tanggal satu, Mirza mulai kelihatan murung, keluar dari ruangan Pak Dannu atasannya sekarang.

Pagi-pagi pagi sekali Firda sudah merengek minta motor matic baru, karena malu kalau berkumpul janjian sama kawan-kawan sosialitanya.

Terpaksa Mirza pun menghadap untuk mendapatkan ijin sekedar kasbon dengan alasan yang tidajelas waktu itu. Entah karena sudah bosan, akhirnya Pak Danu menyetop pencairan dana talang untuk Mirza, karena setelah di cek di bagian keuangan, ternyata Mirza tercatat sebagai peminjam kasbon paling sering dan dengan total jumlah pinjaman yang eksotik, 49 juta rupiah. Bagaimana Pak Dannu tidak kaget. Karena ternyata Mirza menodai kepercayaan penuh dari Pak Dannu.

Karena sudah tidak bisa diandalkan lagi menurut Pak Dannu, akhirnya Minggu itu juga Mirza di pecat, dan harus bertanggungjawab dengan semua kelakuannya.

Istrinya sontak terkejut dan malah tidak peduli, mereka pun bertengkar hebat, Mirza baru sadar kalau selama ini dirinya telah diracuni agar hanya memberi keuntungan pada wanita yang dicintainya itu. Firda menuntut cerai, disanalah Mirza merasa terpuruk dan tersadar akan kekhilapannya selama ini, padahal Firda lah yang memang sudah tidak bisa dinasihati agar jangan membuat suami nya “korupsi”.

Karena tidak sanggup membayar hutang untuk mengganti uang ke kantornya, akhirnya ketukan palu Pak Hakim pun tiga kali di suarakan. Dengan keputusan bulat singgah di rutan selama 7 tahun.

Jadilah seseorang yang memiliki prinsip murni, yang tidak akan memberi sengsara diri. Sayangi dan cintai segalanya, sesuai porsi pasti.

Gambar : google share