Jejak Kelam

Jejak Kelam

“Kamu tidak gila, Nak.” Wanita penolongku dari Lembaga Pemberdayaan Anak dan Perempuan itu mengelus kepalaku.

“Kamu harus yakin bahwa masih ada kesempatan untuk hidup bahagia. Waktumu terlalu berharga bila hanya menyesali hal yang telah terjadi.” 

Pelan dia berkata dengan tangan di bahuku.

“Bila kamu masih ingin disini bersama bonekamu, boleh saja, tapi ganti dulu bajumu yang lusuh ini dan biarkan ibu sisir rambutmu agar terlihat rapi ya.” Ia membujukku.

“Aku mendengarmu ibu, tapi bibir ini tak juga bisa mengucapkan kata-kata yang ada dalam pikiranku.” Aku terlihat mendengus di mata ibu itu.

Kenangan pahit itu masih lekat, belum hilang setelah kualami selama dua tahun belakangan ini. Kebebasan baru ku raih semalam. Terlepas dari cengkeraman lelaki bejat yang mengaku ayah.

Lelaki itu hadir saat emak dalam kesendirian tanpa pendamping hidup, selain aku anaknya. Namun mengapa emak harus pergi jauh ke tanah orang demi menghidupi kami, aku, lelaki itu dan seorang anak mereka. Mengapa bukan dia yang berkorban dan bertanggung jawab untuk kehidupan kami. 

Semua bermula manis. Wajah malaikatnya melenakan kami. Aku ingat, boneka ini pemberian lelaki itu sebagai bukti perhatian seorang ayah pada putri kecilnya. Aku menyukainya.

Bencana mulai datang saat kesepian merambat, tanpa emak, tanpa istri baginya. Hidup di kampung seadanya membuatku cepat mengerti arti tanggungjawab, tapi belum cukup bagiku untuk mengerti bahwa aku menjadi budak nafsunya.

Saat nafsu merasuki bagai binatang dan setiap erangan kesakitan ku  tak diindahkannya. Keheningan malam dan lolongan anjing meredam jerit tangisku. Tangan ini pun tak kuat untuk mendorongnya terlepas dari tubuhku yang terhimpit. 

Hari-hariku penuh kecaman dan pengawasan ketat darinya. Sandiwara yang hebat dari aktor kelas teri, setiap kali emak menghubungi dia. 

Sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga. Pertolongan Allah sungguh nyata, aku berlari sekencang mungkin, lepas dari cengkeraman lelaki bejat itu. 

Sampai juga aku mencapai tempat tinggal Haji Toha yang pernah mengajariku mengaji sewaktu kecil. Lelaki baik ini juga yang mempertemukan aku dengan ibu yang baik ini.

“Biarlah ibu saja yang bicara dengan emakmu di seberang sana. Kamu tenangkan dirimu, karena yang mengganggumu sudah diamankan.”

Ibu yang baik ini masih menemaniku.

Kupeluk erat boneka yang sudah tak cantik lagi, karena bajunya yang indah telah ku cabik-cabik saat raga ini tercabik oleh kebejatan lelaki jahanam itu. Senyum boneka ini tak lagi kulihat manis, hilang seperti terhempasnya kehidupanku yang dulu indah.

Bila kenangan buruk itu menghantuiku, kuhempaskan boneka itu tak peduli, seperti hatiku yang kosong dan penuh luka. Seorang kanak-kanak yang semula bahagia, dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Semoga Allah menolongku kembali dengan mengirimkan orang baik lainnya untuk mengembalikan diriku seperti dulu.

rumahmediagrup/hadiyatitriono