Jelang Penghujung Siang

 Jelang Penghujung Siang
 

Terselip satu cerita sederhana
Di sebuah sudut kota kembang
 
Tentang seorang anak manusia
Terduduk lemas di trotoar
 
Penat tergambar dari garis kerut
Urat mengeras bak akar beringin tua
Jangan kau tanya berapa banyak peluhnya mengalir
Tersapu ramah angin panas
Tanpa kesejukan sama sekali
 
Debu yang berterbangan terhisap paru-paru renta
Menyesakkan nafas yang masih terengah
Mata sayu yang mulai meredup
Laksana obor yang mulai kehabisan minyak
 
Ia lelah
 
Seharian menebar langkah
Menyusuri hiruk pikuk sang kota mojang
Satu tujuannya
Agar pikulannya kosong tak bersisa
Dan membawa beberapa lembar rupiah
 
Hadiah istimewa untuk keluarga tercinta
 
Terkadang satu hari menjadi keberuntungannya
Laris manis dagangan tak bersisa
Senyum sumringah penuh syukur
Betapa Illahi limpahkan rizki tanpa henti
 
 Namun ada kala hari terasa sepi
 
Tak satupun sudi hampiri
Pikulan tak berkurang
Hanya sepasang tangan hampa yang ia sanggup tunjukkan
Pada sayu pandangan mata isteri tercinta
 
Dalam langkah selalu terselip doa
Semoga Illahi murahkan hati
Mudahkan ikhtiar demi sekeping rizki
 
Dan kini bersandar pada dinding kumal
Ia duduk sejenak melepas lelah
 
Tak pedulikan panas ataupun bising
Baginya terdengar indah
Seperti alunan simfoni maestro dunia
 
Sejenak pejamkan mata
Berkhayal senyum isteri tercinta menyambutnya
Saat ia pamerkan hasil berniaga hari ini
 
Tanda cinta sederhana
Pada keluarga tersayang
 
Bandung Barat, awal Agustus 2019
D3100 18-105 mm
Snapseed
 
 
#Nubar
#NulisBareng
#Level2
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week1
#RNB48



rumahmediagrup/masmuspoetrygraphy