Jelang Siang Di Satu Sudut Kota

 Jelang Siang Di Satu Sudut Kota
  

 Terduduk bersandar barisan bilah papan
 Rapi berjajar berhias coretan kasar
 Terasa dingin melapuk termakan usia
  
 Disitulah badan ini sejenak terdiam
 Melepas letih membuang sisa peluh
 Basahnya baju pertanda betapa panasnya hari
  
 Sebuah harga ikhtiar tanpa henti
  
 Ayunan angin coba usir tetesan keringat panas
 Dinginkan pori-pori yang semakin hitam
 Terpapar sinar sang surya
 Terasa menusuk dalam
  
 Termenungku
  
 Pandangi debu jalanan yang asyik melayang
 Membentuk lapisan kabut tebal
 Kala jejak kaki dan roda menggilasnya
 Terbang tanpa arah tanpa tujuan
  
 Debu itu seperti khayalku
  
 Melayang coba temukan
 Cita yang pernah tersemat dalam dada
 Harapan yang sempat tercetak dalam benak
  
 Seiring waktu menggerus
 Tak dapat kujumpai
  
 Kemanakah mereka pergi ?
  
 Apakah tak sudi lagi mengisi pikiran dan hati
 Tega pergi tanpa pamit
 Buat langkah semakin berat
 Nafas yang kian terengah
  
 Aku tak pernah mengerti
  
 Apakah aku bukan tuan rumah yang baik ?
 Tak cukup menjamu melayani
 Hingga tak betah harapan itu tinggal
 Pergi tanpa pesan
  
 Tinggalkan diri bertarung
 Bertahan susah payah
 Dari taring putus asa yang menyeringai
  
 Siang ini semakin panas
 Dan debu itu semakin tinggi melayang
  
 Padanya kubisikkan permohonan
 Sudilah harapan itu kembali pulang
 Mengisi ruang hati yang kosong
  
 Aku akan setia menanti
 Meski tak sampai nyawa ini
  
 Bandung Barat, akhir September 2019
 Picture by mbak Novi Soejanto
  
 #Nubar
 #NulisBareng
 #Level3
 #BerkreasiLewatAksara
 #menulismengabadikankebaikan
 #week4day3
 #RNB48
 #rumahmediagrup — bersama Rumedia Nubar Bla dan Ilham Alfafa. 




rumahmediagrup/masmuspoetrygraphy