JERITAN TAK BERSUARA

Jeritan Tak Bersuara

Sosok dengan tubuh penuh debu dan bersimbah darah. Tatapan mata tajam namun tak terarah. Tiupan angin mengeringkan tetesan-tetesan bening dari sudut matanya. Warna kelam menggelapkan kehidupan yang direnggut paksa. Mereka tak punya ruang keluarga untuk sekedar melepas lelah. Yang dimiliki hanya selembar sajadah untuk mengadu pada Sang Pencipta.

Tak punya tas dengan merek terkenal. Tak ada alas kaki apalagi  berbagai bentuk dan merek. Mereka juga tak punya banyak jilbab dan kerudung untuk dipakai pada hari yang berbeda. Apalagi berbagai warna, bahan, dan merek. Hanya tersisa kerudung dan Jilbab hitam yang melekat sebagai penutup.

Rintikan hujan basahi tanah para syuhada. Bercampur air dan darah menjadi aliran yang tak berujung. Jeritan tangis tak berkesudahan, diiringi dentuman ledakan yang menakutkan bagi yang pertama kali mendengar.

Mereka? sudah terbiasa dengan keadaan ini. Ketika luka itu kering kemudian kembali basah oleh kebengisan para penjajah. Jeritan itu tak hanya terdengar dari satu arah. Tapi dari berbagai penjuru jeritan-jeritan yang kedap suara. Mereka menangis, menjerit tapi tak ada yang mendengar.

Sampai kapan ini akan berlalu? Apakah tak ada yang peduli dengan mereka?

Kita? bukanya tak berbuat apa-apa, lantunan doa sudah pasti diberikan, bantuan fisik tentu berdatangan, kebutuhan perut tak jarang datang dari saudara-saudara seiman negeri seberang. Namun selesaikah duka mereka? Tidak, duka mereka belum usai. Ketika mereka terluka kita datang menyembuhkannya, namun penjajah itu datang kembali membuat luka lagi. Tak akan pernah habis air mata itu, tak akan selesai duka itu jika penjajah masih bersarang di kediaman mereka. Hanya perisai itu (Daulah Islam) yang mampu musnahkan para penjajah penghisap kehidupan kaum muslim.

rumahmediagrup/firafaradillah