JERITANMU

By. Gina Imawan

Puisi itu ungkapan hati.
Jeritan jiwa saat air mata tak mampu lagi berkata.
Saat teriakan tak lagi bermakna.
Saat nasihat diam-diam dianggap sikap beringas yang harus dilibas.

Puisi itu lagu tanpa aransemen musik.
Dibaca penuh perasaan.
Penuh penjiwaan.
Karena tiap kata yang tertuang adalah sejatinya rasa.
Rasa yang tak mampu lagi didendangkan dengan segenap riang yang ada.

Dengarkan kami.
Kami cinta negeri ini.
Sungguh cinta.
Tak perlu bertanya bagaimana pembuktiannya.
Maka kami takkan biarkan negeri ini hancur.
Ditangan para pelacur.

Tak akan pernah.

Tak inginkan negeri indah ini terkubur.
Lalu hanya jadi dongeng untuk pengantar tidur.
Dengan sejarah yang kian lama kian lamur.
Kami sungguh ada.
Dengan raga yang nyata.
Fikir yang sempurna.

Kami akan bersama siapapun.
Yang menyayangi negeri kami tanpa ampun.
Sama seperti kami dengan sepenuh kepercayaan.
Memberikan mandat pada kalian.

Puisi adalah curahan rasa.
Bukan kalimat biasa.
Saat kalian yang kami percaya.
Tega bersikap semena-mena.
Maka kemana kami harus bicara?

Sudahlah,
Tak perlu terus berkilah.
Bila merasa kian berat beban gundah.
Dan senyummu tak lagi mudah.
Penuhi semua aspirasi kami.
Bukankah itu mudah?