Jika Bunuh Diri Dianggap Solusi


Jika Bunuh Diri Dianggap Solusi

Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

Miris, satu kata yang terlontar saat membaca berita seorang siswa kelas V SD meninggal karena bunuh diri. Seorang siswa kelas 5 Sekolah Dasar (SD) berinisial HAN (12), ditemukan tewas dengan cara gantung diri di rumahnya, Kampung Gemoh Kapling, Kelurahan Butuh, Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah (Jateng), Senin (7/10/2019). (INews.id)

Seorang remaja warga Dusun Tour Orin Bao, Desa Nita, Kecamatan Nita, Kota Maumere, pulau Flores ditemukan tewas dalam keadaan tergantung, Senin (18/11/2019) sekira pukul 00.25 WITA.

Adiptya Sukmana, pelajar salah SMK swasta Ponorogo yang ditemukan tewas di pinggir jalan menuju Wisata Telaga Ngebel, Desa Kemiri, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, dipastikan bunuh diri. (9/8/2019).

Tiga kasus bunuh diri diatas hanya sekelumit kisah, yang faktanya dilapangan jauh lebih banyak. Seperti puncak gunung es ditengah lautan

/Benarkah Generasi Indonesia Darurat Bunuh Diri?/

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah menerbitkan penelitiannya tentang perkiraan tingkat bunuh diri. Penelitian selesai dilakukan tahun 2016 dengan sedikit penyempurnaan terakhir tahun 2018. Dari beberapa tahun sebelumnya, terlihat peningkatan angka bunuh diri di Indonesia.

Psikiater FKUI-RSCM, Dr dr Nurmiati Amir, SpKJ (K), mengatakan menurut WHO angka bunuh diri di Indonesia, pada tahun 2010 adalah 1,8 per 100 ribu jiwa atau sekitar 5.000 orang per tahun. Tahun 2012 meningkat menjadi 4,3 per 100 ribu jiwa atau sekitar 10 ribu per tahun.

Secara global, setiap tahunnya lebih dari 800 ribu orang meninggal akibat bunuh diri atau satu kematian setiap 40 detik. Di negara maju tingkat percobaan bunuh dirinya lebih tinggi yaitu 12,7 per 100 ribu penduduk. Bunuh diri adalah interaksi biologi, psikologi, sosial dan budaya. Bunuh diri menjadi penyebab kematian kedua pada usia muda (15 sampai 29 tahun).

Bunuh diri merupakan masalah besar di belahan dunia saat ini. Pada beberapa negara, angka bunuh diri orang tua menurun tapi pada usia muda naik. Sebanyak 90 persen orang yang melakukan bunuh diri adalah orang dengan gangguan jiwa, misalnya skizofrenia, gangguan depresi mayor, bipolar, ansietas, penyalahgunaan zat, penyakit neurologi misalnya epilepsi, dan gangguan kepribadian.

Prof R Irawati Ismail, SpKJ(K), MEpid dari Divisi Psikiatri Anak dan Remaja Departemen Psikiatri FKUI RSCM mengatakan bunuh diri adalah masalah kesehatan dalam masyarakat yang serius dan mempengaruhi banyak anak serta remaja. Bunuh diri menjadi penyebab kematian ketiga di dunia pada remaja antara usia 10 dan 24 tahun. Dan mengakibatkan sekitar 4.600 jiwa yang hilang setiap tahun.
(https://m.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/18/10/16/pgoqeo328-angka-bunuh-diri-di-anak-muda-meningkat)

Pada 2015 Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan melakukan survei yang melibatkan 10.300 siswa SMP dan SMA dari seluruh provinsi di Indonesia sebagai sampel. Survei itu bertujuan untuk melihat perilaku dan persoalan yang dihadapi siswa di sekolah. Namun survei tersebut juga menangkap sinyal kecenderungan bunuh diri di tengah para remaja itu.

Survei itu memperlihatkan 650 responden –sekitar 6 persen dari sampel- menyatakan punya keinginan bunuh diri. Mereka yang ingin bunuh diri itu didominasi oleh perempuan. Survei itu tidak meneliti lebih jauh pemicu keinginan bunuh diri itu.

Namun menurut Direktur Kesehatan Keluarga Ditjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Eni Gustina, “Dari evaluasi kami kemungkinan besar anak-anak ini kurang kasih sayang atau perhatian orang tua. Dari pertanyaan yang kami berikan, beberapa siswa mengaku selalu merasa sendiri dan kesepian. Ada yang mengaku punya tekanan mental, bahkan ingin bunuh diri.”

Pada tahun yang sama survei kesehatan global berbasis sekolah 2015 memperlihatkan 18,6 persen remaja di Jakarta ingin bunuh diri. Jika dikelompokkan lagi, remaja yang mengalami gangguan emosional, 35 persen di antaranya mempunyai ide bunuh diri. Sedangkan pada populasi remaja normal, keinginan untuk bunuh diri itu jumlahnya 14 persen.
(https://beritagar.id/artikel/editorial/selamatkan-remaja-kita-dari-bunuh-diri)

/Bunuh Diri Penyakit atau Solusi?/

Mengapa penting untuk membicarakan depresi dan bunuh diri di Indonesia? Kepala koordinator komunitas Into the Light Indonesia, Benny Prawira Siauw mengingatkan, apabila depresi sampai berujung pada tindakan bunuh diri, maka Indonesia akan kehilangan banyak orang, termasuk potensi sumber daya manusia unggul.

Terlebih pada 2020, Indonesia akan mendapatkan “bonus” demografis. Artinya, diprediksi akan ada lebih banyak orang yang mengalami depresi, bahkan memiliki pemikiran bunuh diri. Badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO) bahkan memprediksi, depresi akan menjadi penyakit dengan angka kasus kematian tertinggi kedua, setelah penyakit jantung.

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa sebenarnya bunuh diri adalah penyakit sosial yang harus dicari akar masalahnya. Karena jika kita melihat capaian data bunuh diri yang cukup tinggi bisa jadi bunuh diri menjadi penyakit menular yang mematikan. Sehingga butuh kesigapan agar penyakit ini tidak terus memakan korban.

/Membebaskan Generasi Dari Bunuh Diri/

Bunuh diri pada remaja lebih karena dipicu depresi berat, bisa dikarenakan jalinan asmara yang kandas, kesepian yang tidak berujung akibat kurangnya perhatian dari orang tua dan keluarga, serta efek perundungan (bulliying) yang sadis.

Ketahanan mental dalam kerasnya hidup di era kapitalis saat ini memang menjadi taruhan untuk bisa mewujudkan generasi yang sehat secara fisik dan psikis. Meskipun hal ini tidak saja dialami oleh generasi muda. Bahkan, kondisi sosial, politik, dan ekonomi juga turut memperparah kasus ini.

Dalam kondisi seperti itu, upaya pencegahan bunuh diri –terutama di kalangan remaja- harus dilakukan secara saksama dan cermat. Upaya itu pastilah akan melibatkan banyak pihak dan banyak pendekatan.

Keluarga dan lingkungan –termasuk sekolah- akan menjadi pihak yang penting dalam mencegah remaja kita ke arah bunuh diri. Keluarga dan lingkungan perlu mempunyai kemampuan untuk mendeteksi gejala depresi yang dialami remaja sehingga bisa melakukan upaya pencegahan lebih dini.

Pemerintah sudah seharusnya mempunyai program nyata yang terukur yang memungkinkan keluarga dan lingkungan mempunyai kemampuan untuk mendeteksi dan memberi jalan keluar bagi kecenderungan bunuh diri.

Sejak Juli 2016 Kementerian Kesehatan membuka nomor darurat untuk konseling pencegahan bunuh diri. Masyarakat diharapkan untuk menghubungi nomor 119 jika melihat ada orang yang ingin melakukan bunuh diri. Menurut Menteri Kesehatan, nomor yang sama bisa juga dipergunakan oleh siapapun untuk berkeluh kesah menceritakan masalahnya, demi terhindar dari depresi yang bisa berujung kepada ide untuk bunuh diri.

Namun pemerintah harus belajar dari pengalaman sebelumnya agar upaya pencegahan untuk mencegah bunuh diri lebih berhasil. Pada Oktober 2010 sebetulnya pemerintah sudah mengoperasikan nomor telepon 500-454 sebagai layanan konsultasi bagi pengidap depresi.

Namun layanan 500-454 itu harus dikatakan gagal. Jumlah penelepon ke nomor tersebut sangat minim, sementara angka bunuh diri masih tinggi. Layanan itu berhenti beroperasi pada 2014. Untuk menghindarkan kegagalan yang sama, pemerintah harus mempertimbangkan langkah kampanye dan sosialisasi yang tepat. Sudah barang tentu langkah-langkah untuk mencegah bunuh diri pun harus bukan langkah ala kadarnya.

Penanaman aqidah yang kuat sejak dini harus selalu dilakukan oleh keluarga. Selalu memberikan pemahaman agama yang benar, dosa-pahala, baik-buruk, benar-salah, halal-haram tanpa menjustifikasi mereka. Membangun komunikasi yang efektif, berusaha menjadi pendengar yang baik, serta memberikan rasa nyaman bagi mereka merupakan langkah praktis dan nyata untuk membimbing remaja kita.

Rizki, ajal, dan jodoh memang tiga hal yang keberadaannya hanya Allah SWT yang tahu. Tapi mengupayakan dan mempersiapkan dengan baik adalah tugas setiap insan. Masa remaja adalah masa peralihan yang sangat rentan, sehingga butuh perhatian lebih untuk mereka. Keluarga (orang tua), masayarakat harus bersinergi dalam hal ini. Tidak hanya pemerintah, semua pihak harus waspada dan tanggap terhadap gelagat keinginan untuk bunuh diri sekecil apapun. Mereka harus diselamatkan dari niat kelam untuk bunuh diri. Wallahu’alam.

#LiveOppressedOrRiseUpAgains

#SaveGenerasiDariBunuhDiri

RumahMediaGrup/endahsulis1234