Jika Tenaga Kerja Migran Memiliki Keterampilan Rendah

sumber gambar : www.google.com

Jika Tenaga Kerja Migran Memiliki Keterampilan Rendah

Artikel ini akan sedikit mendiskusikan terkait penggunaan pekerja migran yang berketerampilan rendah. Eksplorasi terkait keterampilan rendah sangat jarang dibicarakan, pada kenyataannya femonena ini seringkali terjadi. Walaupun memang banyak juga tenaga kerja migran memiliki profesional kerja yang berkualitas. Khususnya profesional kesehatan, namun tidak banyak terjadi pada sektor industri.

Sejauh mana penggunaan pekerja migran ini merupakan tantangan bagi pasar kerja konvensional. Apakah pekerja migran yang berketerampilan rendah ini memiliki harapan untuk perolehan upah yang lebih baik?

Di sisi lain, perusahaan berbasis industri mempertahankan keunggulan kompetitif dengan memperhitungan biaya tenaga kerja yang rendah dan mendatangkan pekerja yang bersifat substitusi. Telah tersedia kelompok kerja dari daerah lain, akan menggantikan pekerja dari daerah tujuan maupun pendatang dari daerah lainnya. Kontradiksi keinginan perusahaan dan harapan pekerja migran menjadi hal menarik untuk didiskusikan. Sebagian besar perusahaan berkeinginan mempertahankan pekerja migran, asalkan mereka memiliki produktivitas dan etos kerja yang tinggi. Komitmen bersaing yang dimiliki perusahaan memfokuskan diri pada pengunaan biaya upah yang rendah untuk mendapatkan hasil kerja yang tinggi, sehingga mampu berdaya saing.

Faktor penting yang harus dimiliki seorang migran adalah berketerampilan, pengalaman kerja, dan kemahiran tertentu. Jika perusahaan merekrut pekerja yang bernilai tinggi maka setidaknya perusahaan mengurangi beban biaya yang dikeluarkan sebagai konsekuensi perbaikan keterampilan pekerja. Seperti biaya pelatihan, biaya pendidikan dan biaya lain sebagai turunan atas biaya-biaya tersebut. Namun bisa saja sebaliknya terjadi, perusahaan merekrut pekerja profesional dengan upah biaya tinggi. Dalam jangka panjang, penyediaan upah tinggi ini sebanding dengan nilai produktivitas yang diberikan oleh pekerja tersebut pada perusahaan.

Kemauan dan kemampuan pekerja migran sebagai kuncinya, agar mereka memeroleh upah tinggi. Dan perusahaan memetik hasil atas biaya upah yang tinggi dengan perolehan produktivitas yang tinggi. Perbedaan yang jelas dalam sikap pengusaha dan persepsi pekerja migran ini mendominasi cara pikir pasar tenaga kerja migran. Selanjutnya, menjadi pilihan bagi pekerja migran. Apakah tetap dengan keterampilan rendah? Atau memperbaiki keterampilan dan profesional.

rumahmediagrup/ Anita Kristina