Jika Tuhan Tak Adil

“Sepertinya Tuhan tidak adil padaku!” Keluh seseorang yang sedang dirundung kemalangan.

“Tidak adil gimana, Bro?” Tanyaku padanya.

“Ya, tidak adil lah… Buktinya sekian tahun aku berjuang menggunakan pikiran, tenaga, waktu untuk meraih kesuksesan tapi hasilnya gini-gini terus, jangankan untuk sukses, untuk makan entar malam saja bingung mau makan apa? Gak ada yang bisa dimakan,,,  Aku sudah bekerja banting tulang, kepala di atas kaki di bawah, kerja gak lihat waktu, tetap aja seperti ini. Setiap malam sedu sedan di hadapan Tuhan meminta pertolongan, berdoa merendahkan diri serendah-rendahnya, tetap saja tidak ada perubahan,” keluhnya semakin menjadi, “kadang aku iri melihat kesuksesan orang lain. Ada yang baru 4 tahun jualan sayuran setiap hari, hanya memakai tenaga saja, bisa sukses sampai punya rumah sendiri, mobil mewah dan motor mahal.

Ada juga yang hanya berjualan pulsa setiap hari di depan rumahnya, bisa sampai beli ruko, buka counter hp yang lebih lengkap isinya. Aku juga heran dengan orang yang jualan batagor di depan rumah, baru dua tahun sudah bisa membeli rumah, sampai punya usaha kos-kosan. Mereka hanya memakai salah satu cara untuk meraih kesuksesan. Sedangkan aku, sudah semua cara kulakukan. Dengan kecerdasan, dengan kekuatan, dengan ketekunan, dengan ketegaran, dengan kesabaran, dengan bla bla bla.. semua sudah kulakukan sampai saat ini. Dari bisnis, mengelola perusahaan dan karyawan, sampe jualan pinggir jalan dikejar-kejar satpam juga pernah. Dari kerja yang hanya menggunakan tenaga sampai kerja yang menguras pikiran juga sudah, semua sudah dilakoni, apa yang salah dengan diriku???” Keluhnya kian meradang. Lelaki separuh baya itu terlihat putus asa dan mulai kehilangan keyakinan pada dirinya juga pada Tuhannya.

“Sudah curhatnya?” Tanyaku. Dia tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya saja.

“Dalam menentukan perkara di pengadilan, seorang hakim yang sudah ribuan kasus ditanganinya, belum tentu ia bisa berbuat adil, karena dia manusia. saksi-saksi dan bukti-bukti yang dihadirkan, jika itu palsu, apakah si hakim mengetahuinya? kalaupun itu asli, apakah bisa menjamin si hakim adil? jika di belakangnya ia mungkin telah disuap miliyaran rupiah untuk memenangkan suatu perkara?

Seorang Pemilik perusahaan apakah bisa adil dalam menggaji karyawannya? Apa ia bisa tahu mana yang rajin mana yang tidak? Apa si bos itu bisa tahu mana yang loyal mana yang tidak?

Mereka manusia, tidak mengetahui apa yang dikerjakan orang lain, tidak akan tahu bagaimana perjuangan orang lain. Sedangkan Tuhan? Dia Maha Segalanya. Apa yang kita sembunyikan pasti Dia ketahui. Jadi, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Tidak ada siapa pun tandingan-Nya di dunia dan seluruh alam semesta ini yang bisa berbuat adil seperti keadilan-Nya…”

“Lalu, kenapa Tuhan tidak adil padaku?” Potongnya. “Bukankah Ia tahu seperti apa perihnya perjuanganku selama ini? kenapa aku belum juga diberikan jalan keluar dari kesempitan yang menghadangku selama ini? Bukankah itu adalah bentuk ketidakadilan?”

“Jika Tuhan tidak adil, maka penderitaanmu saat ini masih belum seberapa dibanding dengan dosa-dosa yang kau lakukan. Jika Tuhan tidak adil, maka engkau tidak akan merasakan kenikmatan dalam perjuanganmu, karena setetes keringat yang kau keluarkan karena bekerja itu mengugurkan dosa-dosa kecil yang kau lakukan. Jika Tuhan tidak adil, sudah pasti Ia akan bertanya, ‘sudah tuluskah kau mengabdi? sehingga kau pantas mendapatkan pertolongan-Ku?’ Tapi Tuhan ternyata adil, kita saja yang kurang bersyukur dan tidak berpikir.

Keadilan tidak dilihat dari hasil yang didapatkan seseorang. Keadilan Tuhan adalah proses yang dilakukan seseorang. Setiap proses yang dijalani hamba-Nya, selalu–tidak pernah terlewat–dicatat oleh-Nya. Jika prosesnya itu baik, maka akan tercatat sebagai amal kebaikan, jika prosesnya itu adalah buruk, maka akan dicatat sebagai amal keburukan. Jadi saudaraku, jangan khawatir dengan hidupmu, jika kau melihat hasil yang didapatkan orang lain, kau tidak tahu ‘kan proses yang mereka jalani. Bisa jadi Tuhan meridainya, bisa jadi tidak!

Teruskan perjuanganmu dalam berproses menjalani kehidupan ini, karena hasil terbaik yang akan kau dapatkan adalah keridaan-Nya, yang menyebabkan engkau bisa masuk ke Jannah-Nya. sedangkan harta, hanya sekadar persinggahan kenikmatan yang sementara. Engkau berpuluh-puluh tahun mengejar dunia, saat dunia telah kau dapatkan, esok engkau mati, apa dunia itu bisa kau bawa ke dalam kuburmu???”

rumahmedia/alfafa