Kalimat Berbahaya

Kalimat Berbahaya

Tulisan ini lebih menyorot kepada hubunga perkataan antara anak dengan orang tua. Kenapa? Salah satunya orang tua adalah suri teladan pertama dan utama oleh anak-anaknya. Jadi, betapa signifikannya peran orang tua bagi anak-anaknya.

Bagi kebanyakan orang tua yang belum memahami betapa besar pengaruh ucapan mereka terhadap anak-anaknya, maka mereka akan berucap tanpa banyak pertimbangan, bahkan asal nyeplos alias dilontarkan begitu saja. Hal ini tentu amat berbahaya, dikarenakan kata-kata yang keluar tanpa pertimbangan biasanya akan lebih banyak berpotensi salahnya dari pada benarnya.

Sebut saja salah satu kalimat tersebut itu adalah jawaban “ terserah ibu atau terserah ayah” ketika ditanya oleh anaknya tentang apa yang sedang dilakukan atau kenapa ayah ibunya melakukan suatu perbuatan. Jawaban “terserah” tersebut sekilas biasa dan tidak membawa dampak yang berlebihan bagi anak-anak, ia akan berlalu seiring kemudian berlalunya waktu.

Tetapi, benarkah demikian? Sejatinya tidak, jawaban tersebut mengandung unsur tidak mendidik bagi anak-anak bahkan membahayakan buat mereka. Kenapa demikian? Kata “terserah” adalah sebuah ungkapan masa bodoh, ketidakpedulian terhadap efek dan timbal balik dari lingkungan sekitar. Satu ungkapan yang hanya mementingkan kepentingan diri sendiri tanpa memedulikan dampaknya bagi orang lain bahkan dampak untuk diri sendiri.

Nah, anak-anak yang terbiasa mendengar jawaban atau kata-kata “terserah saya atau suka-suka saya” dari bapak ibunya, akan tertanam dalam otak dan pikiran mereka perkataan serupa dan pada akhirnya akan menjelma menjadi sikap yang egois, tidak memedulikan pandangan sekitar dan aturan-aturan yang ada. Yang terpenting sikap tersebut dirasa enjoy ketika dilakukan, tidak penting apakah menyusahkan orang lain atau tidak, merugikan orang lain atau tidak, membawa keburukan atau kebaikan.

Lebih hebatnya lagi, anak-anak tersebut ketika ditanya oleh orang tuanya oleh orang lain tentang kenapa ia melakukan satu perbuatan, maka dengan entengnya ia juga akan melontarkan jawaban “terserah saya”. Jadilah kalau seperti itu terjadi penduplikatan perilaku dan tidak mustahil bila tidak segera diamputasi akan berkelanjutkan kepada anak cucunya yang itu berarti turun temurun. Mengerikan bukan!

 Warisan kebaikan akan membawa kebaikan bagi pelakunya sampai dilakukan oleh orang pada era kapan pun dan tidak akan berhenti aliran kebaikan itu terus bersambung dengan pelakunya. Pun sebalinya, satu keburukan, dosanya akan terus menetas kepada pelakunya bilamana pun sepanjang perilaku itu masih terus menjadi ikutan orang-orang.

 Kita berlindung kepada Allah dari menjadi anutan tak terpuji bagi anak cucu kita khususnya dan orang lain pada umumnya. Semoga Allah mengaruniakan kita dan anak keturunan kita akhlakul karimah, akhlaknya para nabi dan orang-orang sholih. Aamiin. (rumahmediagrup/wahyudinaufath).

Gambar: https://fpscs.uii.ac.id/blog/2020/01/24/menjaga-lisan/