KAMPUS MERDEKA ALA MENDIKBUD

Kampus merdeka Ala Mendikbud

Menjadi seorang pendidik tidaklah mudah, karena ditangan para pendidik pembentukan karakter seseorang terjadi. Tahun lalu perubahan tampuk kekuasaan juga merubah jajaran menteri yang membantu presiden dalam melaksakan tugasnya. Nadiem makarim, adalah seorang menteri pendidikan yang baru saja diangkat yang bukan berlatar belakang pendidikan.

Tanggal 25 november 2019 lalu Nadiem menyatakan “Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada anda, perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidak nyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia, tapi perubahan tidak bisa dimulai dari atas semua berawal dan berakhir dengan guru, jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah, ambilah langkah pertama, besok dimanapun anda berada lakukan perubahan kecil di kelas anda”

Dari pidato yang disampaikan, yang ingin saya garis bawahi adalah “kemerdekaan belajar” merdeka adalah satu kata yang menggambarkan sebuah kebebasan. Yang menjadi pertanyaan kebebasan kearah mana pendidikan ini akan dibawa oleh sang menteri?

Baru-baru ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim meluncurkan konsep yang menjadi lanjutan kemerdekaan belajar tahun lalu, dalam acara peluncuran Kebijakan Kampus Merdeka di Gedung D Kemendikbud, Jalan Jendral Sudirman, Jakarta Pusat, Jum’at 24 Januari 2020, menteri Nadiem mengeluarkan empat kebijakan yang bertajuk “Kampus Merdeka”, Berikut kebijakan tersebut:

  1. Kebebasan kampus Negeri dan Swasta dalam  membuka program studi baru jika kampus bisa bekerjasama dengan bermacam-macam lembaga. Bahkan perusahaan multinasional sampai organisasi dunia bisa ikut andil dalam penyusunan kurikulum pada prodi baru tersebut.
  2. Perubahan sistem akreditasi untuk perguruan tinggi secara otomatis, yang sebelumnya diperbaharui sekali lima tahun.
  3. Kemudahan status kampus menjadi badan hukum. Mempermudah perubahan dari PTN Badan Layanan Umum (BLU) menjadi PTN Berbadan Hukukm (BH). Ketika kampus bebas menjadi perguruan tinggi berbadan hukum, artinya negara semakin melepas tanggung jawab sebagai agen penyelenggara penjamin pendidikan.
  4. Mengganti sistem kredit semester (SKS) menjadi program kerja luar kelas. Mahasiswa bisa magang tiga semester dengan satu semester mengambil mata kuliah di luar prodi. Kebijakan ini bukanya menghasilkan tenaga ahli melainkan budak industri.

Konsep kebijakan ini merubah banyak hal secara fundamental dalam pendidikan tinggi. Setiap kebijakan ini terpapar jelas komersialisasi ilmu. Pendidikan diarahkan pada kerjasama dengan swasta, menghasilkan lulusan yang mampu menjadi pekerja industri.  Nadiem mengatakan bahwa “Selama ini pembukan program studi diperguruan tinggi dipersulit, padahal perguruan tinggi dituntut untuk menjawab kebutuhan industri, asalkan perguruan tinggi bekerjasama dengan perusahan” tambahnya. Dari pernyataan ini dapat kita lihat bahwa kapitalisasi kampus lebih mudah dilakukan artinya perusahaan juga dapat membuat kurikulum dalam pendidikan  agar sesuai dengan kebutuhanya. Sangat jelas arah pembangunan pendidikan hanya untuk mencetak tenaga terampil bagi kepentingan industri kapitalis. Pendidikan dalam kapitalis bukan menghasilkan intelektual yang membuat perubahan untuk kemajuan dan sebagai penyelesai permasalahan umat dengan ilmu dan inovasi tetapi menghasilkan intelektual sekuler yang siap dimanfaatkan para kapitalis.

Menteri sama sekali tidak membahas akar masalah yang terjadi dalam pendidikan hari ini. Mulai dari kesejahteraan tenaga pengajar sampai pada ketimpangan kualitas pendidikan tinggi yang hanya terlihat dari akreditasi. Sungguh regulasi sistem kapitalis, nilai seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri, sehingga terpola bahwa prestasi dihadapan manusia sangat berarti, yang memiliki materi berlimpah adalah manusia yang bernilai dimata kapitalisme.

Islam selama aturan kaffahnya diterapkan, menjadikan pendidikan untuk awal membangun peradaban. Pendidikan dalam Islam upaya untuk membentuk manusia dengan kepribadian Islam, menguasai pemikiran Islam, menguasai ilmu-ilmu terapan,  memiliki keterampilan yang tepat guna dalam menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi. Kurikulum Islam dibangun berdasarkan aqidah Islam sebagai pembentuk syakhshiyah (kepribadian), adapun pelajaran dan metodenya disesuai dengan dasar tersebut. Dengan mendidik aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) berdasarkan Islam akan menghantar seseorang pada satu karakter yang khas dan unik. Sehingga intelektual yang lahir dari sistem Islam tidak hanya ilmuan ahli tetapi juga seorang ulama yang tunduk pada Sang Pencipta.

rumahmediagrup/firafaradillah