Kamu Bukan Milik Mama

Kamu Bukan Milik Mama

Libur lebaran selalu menjadi momen yang sangat dinantikan oleh semua orang yang sedang merantau. Bertemu orang tua dan sanak saudara melepas rindu. Namun, libur lebaran itu justru menjadi momen penuh dilema bagi Ayu, seorang istri yang selalu mengharapkan pengertian suaminya.

“Bang, pulang kampung tahun ini, kita nginap di rumah mamanya Ayu, ya?” pinta Ayu memelas.

“Abang nggak bisa janji. Ayu kan tahu gimana ibunya Abang. Dia selalu menyuruh kita pulang ke rumah setiap kita berkunjung kemanapun.” Surya membalikkan tubuhnya tanpa melihat kesedihan di wajah istrinya.

Netra Ayu basah. Suara tangisnya tertahan. Ada rasa sakit yang tak mampu diuraikan dengan kata. Sesak. Dadanya bergemuruh menahan duka yang dirasakan.

“Kalau pulang kampung nanti, Ayu nginap di rumah Mama, ya? Dua hari aja pun nggak apa-apa. Mama kepengen main sama cucu Mama itu, loh,” ucap mamanya di telepon siang itu.

Ucapan itu selalu muncul di benaknya. Tak sanggup dia membayangkan kesedihan wanita yang melahirkannya itu, mengetahui bahwa dia tidak bisa menginap lagi tahun ini.

Hatinya ingin berontak. Karena selama tiga tahun pernikahannya, mereka tidak pernah menginap di rumah orang tuanya ketika mudik. Mereka hanya berkunjung seperti tamu. Selama bertahun-tahun pula, orang tuanya menerima kenyataan itu dengan lapang dada.

Waktu bergulir begitu cepat. Surya terlihat sangat riang melakukan perjalanan mudiknya. Berbeda dengan Ayu, yang sesekali menyeka air mata di sudut netra sayunya. Dia hanya mampu berharap keajaiban akan datang menghampiri. Sehingga, tahun ini dia tidak lagi melihat guratan kesedihan di wajah mamanya.

Di dalam mobil, seperti biasa Surya selalu mengatakan apa saja hal yang tidak disukai ibunya. Dia tidak ingin Ayu melakukan kesalahan yang akan membuat ibunya sedih. Air mata yang ditahan pun akhirnya tertumpah. Ayu menangis terisak menyadari suaminya hanya mempedulikan perasaan ibunya saja.

“Apakah hanya ibu yang berhak untuk berkumpul dengan kita, Bang?” tanya Ayu sambil menyeka tiap butiran yang jatuh ke pipinya. “Pernah nggak sih, Abang memikirkan perasaan mama. Kita akan libur lebaran selama sepuluh hari. Mama cuma minta kita menginap dua hari aja loh, Bang. Dia juga ingin puas bermain dengan cucunya seperti ibu, Bang,” tambah Ayu.

Surya terdiam. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Tidak ada lagi perbincangan. Bungkam. Hanya suara si kecil yang menemani perjalanan mereka.

Senja menyambut kedatangan mereka dengan kehangatan. Mobil hitam mereka telah terparkir di halaman rumah. Seorang wanita paruh baya menyambut mereka dengan senyum menawan. Ayu segera menyalami mertuanya itu. Wajah kusutnya telah ditutup dengan senyum.

Dua hari berlalu dengan berat. Ayu kini berkunjung ke rumah mamanya.

“Kalian jadi nginap malam ini di rumah Mama, kan?” tanya mama dengan mata berbinar-binar.

“Maaf ya, Ma. Ibu tadi pesan kami harus pulang sore ini. Besok lusa kami ke sini lagi, kok.” Surya menjawab.

Ayu melihat mamanya yang tertunduk lesu. Bibirnya seakan ingin mengatakan sesuatu. Wajah semringah mendadak berubah. Ada mendung menggantung di pelupuk matanya.

Tak sanggup rasanya Ayu ketika harus berpamitan dengan mamanya sore itu. Rasa rindu yang membuncah, membuat butiran bening mengalir membasahi punggung tangan mamanya.

“Nggak apa-apa, Yu. Mama tahu kalau kamu bukan milik Mama lagi. Sekarang kamu sudah menikah. Kamu harus taat pada suamimu. Dan perlu kamu ingat bahwa suamimu itu tetap milik ibunya.”

Ayu memeluk erat mamanya. Detak jantung mereka saling beradu. Kenyataan pahit bahwa dia bukan milik mamanya lagi, membuatnya sadar akan posisinya sebagai wanita yang sudah bersuami. Kini surganya tak di bawah telapak kaki mamanya lagi. Surganya telah berpindah kepada rida suaminya. Berbeda dengan suaminya, surganya tetap ada pada rida ibunya.

Kini Ayu hanya mengharap pengertian dari imamnya,yang dia sebut suami dan wanita mulia yang dipanggilnya ibu mertua. Ayu yakin suatu saat hati mereka akan tergugah melalui doa yang dipanjatkannya kepada Yang Maha Membolak-balikkan hati dan rasa.

Pict : google search

rumahmediagrup/decirizkahayulubis