KANDAS

KANDAS

Pandanganku tertuju pada seorang anak muda yang sedang duduk pada anak tangga di depan sebuah toko, persis menghadap ke arah taksi yang akan kembali membawaku pulang usai mengurus sedikit urusan di kota. Ah, paling laki-laki tersebut cuma duduk-duduk saja di situ, batinku.

Ternyata laki-laki muda tadi menumpang satu taksi denganku. Aku mencoba mengajaknya ngobrol saat di dalam taksi. Rupanya tujuannya satu tujuan denganku. Aku dikejar rasa penasaran, ingin tahu lebih jauh mengenainya. Sampai akhirnya aku terhenyak sendiri setelah mengetahui laki-laki berperawakan jangkung dan berambut gondrong ini. Ternyata dia adalah siswaku dulu. Puluhan tahun silam. Pertemuan yang tak terduga ini memutar ulang memori tentangnya.

“Insya Allah siap, Pak,” tegasnya menyanggupi permintaanku untuk menjadikannya sebagai ketua organisasi kepemudaan yang aku bentuk saat itu. Keaktivannya dalam berorganisasi dan juga usulan dari teman-temanya  membuatku menjatuhkan pilihan padanya sebagai ketua.

Singkat cerita, kami berpisah sangat lama dan tak pernah lagi saling tahu kabar satu sama lain.  Sampai akhirnya hari ini, ya hari ini, Allah takdirkan kembali perjumpaan dengannya. Dia yang kini terlihat kurus, rambut gondrong, kulit tampak lebih hitam. Wajar aku tak langsung mengenalinya saat pertama melihatnya tadi.

Sepanjang perjalanan di dalam taksi, ia menceritakan kisah hidupnya yang membuatku getir mendengarkannya. Kisah tentang kehidupannya setelah berumah tangga.

“Saya sudah cerai, Pak.” Ungkapnya yang membuatku tersentak mendengarnya. Keterikatanku sebagai pengajarnya dulu membuatku cukup prihatin atas apa yang kini terjadi antara ia dengan istrinya.

Tak ada alasan yang pasti menurutnya kenapa si istri menggugat cerai dirinya. Segala usaha perbaikan telah ditempuh, namun sang istri tetap ngotot, dengan kerelaan akhirnya ia pun menjatuhkan thalaq. Kini, mantan istrinya telah bersuami lagi.

Perkawinan mereka telah terbina selama 8 tahun dan telah dikaruniai seorang putra. Rasa penasaran memaksaku bertanya bagaimana reaksi si anak begitu mengetahui orang tuanya bercerai.

“Ya, kaget, Pak.” Cetusnya. Ya, anak mana pun tentu mengharapkan orang tuanya dalam keadaan rukun bahagia, bisa mengasuh, merawat dan mendidik anak secara bersama, dalam suka dan duka.

Kembali kutanyakan maksud kedatangannya ke desa yang telah bertahun-tahun ditinggalkannya. “Saya ingin mengurus surat pindah, Pak!” Ujarnya yang lagi-lagi membuat aku tersentak mendengarnya. Sungguh, banyak cerita tak terduga tentang dirinya yang aku dapati pada perjumpaan ini.    

Ya, mungkin inilah yang terbaik bagi dia, batinku, sebagai salah satu cara untuk dia bisa melupakan kenangan pahitnya dalam berumah tangga.

Apakah ada salahku yang menyakiti hatimu

Ataukah kau sudah jemu dengan kasih sayangku

Kalau demikian baik kau lepasakan

Aku pun tak mau bila kau paksakan

Sebuah tembang sendu mengalun dari tape mobil yang dinyalakan oleh supir. Masing-masing terpekur dalam alam pikirannya. Lagu yang menyayat hati, seolah kisah tadi telah berpindah ke dalam lagu tersebut.

Mengapa sikapmu tak seperti dulu

Dinginnya sikapmu oh sedingin salju

…..

Taksi pun terus melaju diiringi tembang yang terus mendayu-dayu.

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)