Karena Aku Perempuan

Karena Aku Perempuan

(Yudith Fabiola)

Sebuah cerita pendek, hasil pelatihan Sehari Bisa Menulis Buku bersama Rumedia Grup, oleh Yudith Fabiola.

Hully mengangsurkan tisu kepada Yana sambil berpikir, gue mesti ngomong apa?

“Coba gue enggak jual mahal,” sesal Yana. “Coba gue enggak mikir lama.”

“Ssshh …” Hully menenangkan Yana ambil menepuk-nepuk pundaknya. “Mungkin memang belum jodoh.”

“Belum jodoh gimana?” semprot Yana. “Lu kayak enggak ngerti aja perasaan perempuan!”

Ya, ampun! Hully mendelik sebal. Belum kelar capek di klinik tadi, sampai rumah malah melihat drama.

Lu tuh, ya, karena gue perempuan makanya gue ngerti,” timpal Hully. “Hari gini udah enggak jaman baperan! Kalau bukan milik elu, ya enggak bakal nyampe ke elu!”

Yana duduk bersandar di kepala tempat tidur, membuang ingus dengan tisu lalu memeluk guling. Setengah wajahnya tertutup guling, merasa bersalah pada Hully. Hatinya membenarkan kata-kata itu, tapi perasaan jengkel membuatnya gengsi untuk mengakui. Sebenarnya, rasa bersalah semakin bertambah karena dia tahu, harusnya duduk manis saja di kamar.

“Lagian sekarang, tuh, jaman Covid,” lanjut Hully. “Mestinya lu …”

Gue tau!” potong Yana cepat. Dia sudah hapal ceramah Hully tentang diam di rumah saja. Dengan diam di rumah, berarti mengurangi penyebaran Covid, berarti meringankan kerja nakes seperti Hully, dan juga mempercepat penyelesaian pandemi. Tapi …

“Cakep, ya? Sampai enggak bisa menahan diri untuk enggak lihat dia?” tanya Hully sambil melepas masker.

“Banget, Hull!” masih ada sesal di suara Yana. “Warnanya toska. Ada logo huruf H di depannya. Talinya panjang, bisa disampirkan ke pundak. Harganya itu, lho, diskon sampai 70 persen!”

“Jadi berapa?” Hully penasaran.

“Lima puluh lima juta aja!” seru Yana.

Hully melotot. Dasar, anak orang kaya!

Mata Yana berair lagi. Lalu tangisnya tumpah. Gulingnya pasrah terkena basah. Dia memukul-mukul guling sambil merepet, “Nyesel! Nyesel!”

Hully menggelengkan kepala. Untung kenal Yana sejak SMA, anak tunggal pemilik pabrik sarung. Enggak sombong, cuma manja, karena segala keinginan dipenuhi orang tuanya. Enggak bodoh juga, cuma malas, hingga lulus akuntasi dengan IPK secukupnya. Sekarang sedang lanjut pendidikan master, dan mereka mengontrak rumah berdua.

Hully meraih handuk untuk siap-siap mandi, sambil mengikik geli dalam hati. Drama ini pasti berlalu.

(Tamat)

(Ilustrasi: Re Reynilda with Canva)