Karena Semestinya Sang Putri Ditemukan (Sebuah Puisi)

Karena Semestinya Sang Putri Ditemukan (Sebuah Puisi)

Ada sebongkah jiwa berada dalam satu raga perempuan
Bukan perempuan biasa, melainkan putri bungsu di sebuah istana

Jiwa itu menyaksikan raganya kelelahan
Membiarkan kedua mata sang putri terpejam
Sementara ia berkelana

Satu lesatan ia tlah tiba di hadapan jiwa tampan
Ah, secepat itu ia bertemu pangeran
Jiwa bertanya tanpa suara
“Apakah kamu pasanganku?”

Sang jiwa tampan secara mengejutkan melengos
Setelah sebelumnya mengulas senyum yang ternyata seringai
“Bukan. Dia bukan pasanganku.”

Jiwa tak surutkan semangatnya
Ia lanjutkan misi mencari “si dia”

Akhirnya sang jiwa menemukan kembarannya yang bercahaya
Seperti bintang yang menerangi pekatnya malam
Ah, beranikah dia menjuluki “kembaran”
Hanya karena tampak begitu mirip

Lagi, dia ulangi pertanyaannya
“Apakah kamu pasanganku?”
Jiwa bercahaya itu tersenyum sendu
“Kamukah ketulusan yang kucari?” tanyanya

Tanpa diduga dalam sekejap cahayanya meredup
Seperti bintang membentuk meteor
Seketika itu pula jiwa bercahaya menghilang
“Bukan, pasanganku takkan pergi begitu saja.”

Jiwa melanjutkan perjalanannya
“Ke mana kuharus mencari pasangan?
Seperti apa dan bagaimana kumenemukannya?”

Kadang jiwa bisa salah mengira
Kadang jiwa salah memahami
Ternyata dunia tak seindah panggung sandiwara
Ternyata tak pula bagai cerita drama Korea

Yang disangkanya pasangan malah menghilang begitu saja
Yang dikira seiring sejalan malah berpindah haluan

Jiwa pun merasa kelelahan
Ada baiknya dia segera pulang
Saat dia tiba, raga masih bergeming dan menutup mata
Jiwa akhirnya kembali

Keesokan pagi setelah mentari mengusir malam
Sebuah ketukan membangunkan sang perempuan
Jiwa menurut ketika raga menarik langkah

“Putri, aku datang untuk meminangmu,” ujar lelaki yang tadi mengetuk pintu.
Jiwa dalam raga terkesima
“Apakah kamu pasanganku?
Bukan si tampan, bukan sang bintang jatuh
Tapi ternyata kamu?”

Bibir sang perempuan masih terkatup tanpa suara keluar sedikitpun.
Bisikan jiwa ia yakinkan tak mampu terdengar di luar sana

Lelaki itu menunduk lalu berkata tepat di telinga
“Tak perlu kau berkelana lagi, Jiwa
Adalah tugas ksatria menemukan putrinya.”

***

P. S. Terinspirasi dari sebuah cerita dalam novel “Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh” disesuaikan dengan pengalaman sendiri.

rumahmediagrup/emmyherlina