Karl Marx : Upah dan Kemiskinan

Sumber Gambar: http;//www.liputan6.com/

Karl Marx : Upah dan Kemiskinan

Pemikiran Marx menggunakan pendekatan ekonomi yang berfokus pada pekerja dan bukan pada kapitalis. Dari itu perspektif Mark melihat upah ditentukan oleh aturan sosial, yakni hak properti dan pertukaran komoditas secara bebas. Namun, pertukaran ini memandang upah buruh tidak memiliki properti. Jadi, kemampuan pekerja menjadi satu-satunya yang dapat dijual di pasar, apa yang disebut dengan tenaga. Nilai tukar tenaga kerja ini adalah biaya pekerja saat memproduksi yaitu upah subsisten. Karena definisi ini sangat inklusif, maka Marx mempersempit pemikirannya bahwa barang mewah adalah konsumsi kelas kapitalis saja (Marx, 1967). Sehingga, standar hidup yang dinikmati oleh pekerja. Sedangkan kebutuhan diproduksi oleh jenis ketrampilan kerja. Hal ini membuat kemajuan ekonomi hanya dibuat oleh negara kapitalis.

Barang yang berkualitas akan memuaskan kebutuhan seseorang. Hal ini menjadi dampak positif dari kapitalisme, tetapi Marx menemukan hal ini sebagai masalah besar. Mengapa? Pertama, pertumbuhan ekonomi meningkatkan upah tetapi meningkatkan keuntungan para kapitalis, memberikan mereka lebih banyak untuk dibelanjakan barang-barang mewah. Kepuasan sosial atas barang mewah digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Dan kondisi ini tidak dapat diakses oleh pekerja. Bagi Marx, upah pekerja subsisten selalu berbanding terbalik dengan konsumsi orang kaya.

Kedua, pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan Marx adalah tidak bagian dari kemajuan negara. Adanya pengusaha yang memberikan layanan menjual produk kebutuhan hidup, tetapi di dalamnya muncul calo, persaingan tidak sehat dan tindakan bejat dalam penentuan harga. Sedangkan dalam definisi modern melihat upah hidup sebagai kebutuhan yang lebih modern, misalnya televisi kabel yang membudaya.

Setelah mengangkat isu-isu yang melekat pada penetapan upah subsisten, Marx memperluas analisisnya dengan melihat lebih dekat pada apa yang harus dilakukan oleh para pekerja saat mengumpulkan upahnya. Sebagai contoh, ia menunjukkan bahwa ada batas upah yang lebih rendah pada syarat sarana fisik. Upah hanya memenuhi kebutuhan fisik, inilah upah terendah. Dan jika pekerja menerima upah rendah ini, itu berarti tenaga kerja jika mempertahankan upah rendahnya ini maka ia dalam keadaan lumpuh pada kebutuhan selain fisik (Marx, 1977).

Selain itu, pertumbuhan modal memiliki dampak lain pada upah yang ditemukan Marx dalam analisis mesin. Dengan mesin-mesin yang bagus maka ada keuntungan mengurangi kekuatan dan keterampilan yang dibutuhkan pekerja. Dan bisa membuat hidup lebih mudah bagi pekerja, sebaliknya itu meningkatkan potensi tenaga kerja dengan memasukkan setiap anggota keluarga pekerja, tanpa perbedaan usia atau jenis kelamin (Marx, 1977). Penambahan wanita dan anak-anak tenaga kerja ini mendefinisikan ulang upah subsisten sebagai jumlah keseluruhan penghasilan keluarga. Namun, Ini menimbulkan masalah lain dalam mendefinisikan upah subsisten. Haruskah demikian? Pekerja individu atau pada rumah tangga? Jika didasarkan pada individu, penghasilan semua anggota rumah tangga diperoleh, mereka mungkin mendapat kemakmuran di atas apa yang seharusnya disediakan oleh upah subsisten (jika hanya satu orang yang bekerja dalam keluarga). Ketika semua anggota rumah tangga harus bergabung untuk mendapatkan upah subsisten, maka  rumah tangga akan berada dalam masalah serius jika terjadi sesuatu pada salah satunya anggota.

Masalah lain adalah sejauh mana upah subsisten akan berjalan bertolak belakang pada teori populasi Malthus. Marx berpendapat bahwa orang tua mendapat insentif untuk memiliki lebih banyak anak, untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga mereka. Itu upah rendah, tidak tinggi, hal itu mendorong pertumbuhan populasi (Marx, 1973). Tetapi jika mengikuti Malthus, jika angka kelahirannya berlebihan, ketika anak-anak itu cukup besar, maka mereka akan bekerja. Mereka akan menjadi bagian dari cadangan industri Marx bagi para penganggur. Mereka akan menambah masalah upah, jika mereka bertahan dengan upah di bawah upah subsisten , dan Marx menyajikan bukti bahwa dibutuhkan diet, kondisi perumahan dan sanitasi menunjukkan bagaimana kualitas tenaga kerja memburuk sebagai hasil kerja dengan upah yang rendah (Marx, 1977).

Dengan mengembangkan definisi multidimensi dari upah subsisten (waktu, tenaga, jumlah orang, dan sebagainya), Marx berpendapat bahwa persaingan pasar memaksa pemilik modal untuk menggunakan sumber daya manusia dasar secara berlebihan kepada mereka dengan memberikan lebih dari gajinya dan memperbaiki kerusakan kualitasnya. Serikat pekerja berfokus pada kebutuhan mendesak anggota mereka dan tidak mengambil pandangan sosial yang diperlukan untuk memberi semua pekerja upah subsisten. Hanya sebuah transformasi dari kapitalisme ke sosialisme dapat memastikan bahwa pekerja mendapat upah subsisten.

Referensi :

Marx, Karl (1844), ‘Economic and philosophic manuscripts of 1844,’ in Robert C. Tucker (ed.), The Marx-Engels Reader, Princeton, NJ: The Princeton University Press, pp. 52–103.

Marx, Karl (1849), Wage Labour and Capital, in Robert C. Tucker (ed.), The Marx-Engels Reader, Princeton, NJ: The Princeton University Press, pp. 167–91.

Marx, Karl (1875), Critique of the Gotha Program, in Robert C. Tucker (ed.), The Marx-Engels Reader, Princeton, NJ: The Princeton University Press, pp. 382–98.

Marx, Karl (1967), Capital, vol. 2, New York: International Publishers.

Marx, Karl (1970), Theories of Surplus Value, New York: August M. Kelley Publishers.

Marx, Karl (1973), Grundrisse, translated by Martin Nicolaus, New York: Vintage Books.

Marx, Karl (1977), Capital, vol. 1, translated by Ben Fowkes, New York: Vintage Books.

Marx, Karl, and Frederick Engels (1968), Karl Marx and Frederick Engels: Selected Works, New York: International Publishers.

rumahmediagrup/Anita Kristina

2 comments

Comments are closed.