Kasih Tak Sampai

Kasih Tak Sampai

“An, nanti temani aku makan di kantin ya selepas laporan praktikum ini,” pintaku pada Anna, teman kuliahku.

Anna melihat ke arahku dan mengangguk.

Waktu sudah beranjak sore ketika kami menyelesaikan semua tugas.

Kutagih janji Anna untuk menemaniku ke kantin.

“Nanggung amat waktunya, sudah hampir waktu makan malam nih,” kata Anna saat ku ajak.

“Justru ini waktu yang tepat An, katanya hindari makanan yang mengandung karbo setelah jam enam sore,” kataku sambil menarik tangannya.

“Ayo, buruan sebelum Cinderella berubah menjadi Upik Abu,” kataku lagi sambil terkekeh. Anna ikut tertawa mendengarnya.

Aku segera memesan soto ayam lengkap dengan nasinya, serta minuman es jeruk. Menu sederhana mahasiswa yang ngekos.

Sambil menunggu pesanan, kami masih membahas isi laporan tadi. Walau sebenarnya aku tak ingin membicarakannya lagi.

Tujuanku mengajak Anna untuk mengutarakan sesuatu yang terpendam di dada, setelah dua tahun kami kuliah bersama dan ku kenal ia dengan baik.

Keresahan melandaku, bagaimana aku harus bicara sekarang. Rangkaian kata yang telah kusiapkan semalam serasa menguap entah kemana. Ku hanya bisa menatapnya tersenyum padaku dan memandang lekat ke arah matanya.

Sungguh ku lihat pancaran warna warni pelangi dari bola matanya, yang meneduhkanku. Apakah itu pertanda ia juga merasakan hal yang sama seperti diriku. Bukankah pancaran mata mewakili perasaan seseorang.

Kenapa di saat seperti ini justru lidahku kelu tak bergerak. Aku mengalihkannya dengan tetap menyantap makanan pelan-pelan, hingga ku dengar suara Anna menyentakkanku.

“Ayo cepetan makannya, udah hampir Magrib nih,” kata Anna.

“Aku sudah janji pada Bunda mau menemaninya ke pengajian selepas maghrib nanti,” katanya lagi.

“Oh ya ya ya. Ini juga sudah selesai kok. Kamu kok cepat sekali makannya. Lapar ya,” kataku menggoda.

“Kamu tuh yang tumben, makan seperti tuan putri yang minta disuapin. Lama sekali tiap sendok nya, sudah setengah jam kita makan lho,” sahut Anna.

“He he he, lagi banyak pikiran sih. Butuh pencerahan nih. Gimana kalau hari Sabtu kita makan lagi sambil kamu bantu memecahkan masalahku ya.”  Aku memintanya kembali mengulang hari ini.

“Iya demi sahabatku, no problem. Sekarang kita pulang, sendiri-sendiri lho ya. Sampai di kos kamu segera mandi dan segera ke masjid untuk  sholat maghrib. Laki-laki tuh kalau sholat harus di masjid, berjamaah.” Anna menceramahiku.

“Iya Tuan Putri, tapi ingat ya hari Sabtu. Kan nggak ada jam kuliah juga. Ku jemput ya di rumahmu,” kataku mengingatkan.

Anna menjawab sambil mengacungkan jempolnya dan berlari ke tempat parkir motor.

————-

Sabtu yang ku tunggu telah tiba, hari yang seharusnya membuatku berbunga-bunga dan melepas kepenatan hati untuk mengatakan perasaan cintaku, bukan sebagai sahabat, namun sebagai orang yang spesial di hati dan hidupnya.

Sejak terakhir makan bersama itu, aku melukiskan semua perasaanku dengan kata-kata dan dihafalkan berulang-ulang.

Namun kenyataan tak seindah impian. Anna kutemui bukan di rumahnya. Saat ini, di Sabtu yang kutunggu, aku duduk terpaku di pusaranya. Kecelakaan lalu lintas telah merenggut nyawanya semalam.

Aku benci pada diriku sendiri, kenapa waktu itu tak mampu jujur padanya, mengungkap semua isi di hati.

Di atas tanah yang masih basah ini, aku panjatkan doa untuk kekasih hati yang tak kumiliki secara badani, aku memiliki hatinya, kasihnya dan perhatiannya.

“Aku mencintaimu Anna.”

Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk umat-Nya.

rumahmediagrup/hadiyatitriono