Keabsahan Data Kualitatif

Sumber gambar : http://www.liputan6.com/

Keabsahan Data Kualitatif

Data yang telah dikumpulkan harus memuat kebenaran. Setidaknya informasi yang disampaikan informan tersebut adalah terpercaya dan valid. Objektivitas keabsahan data juga berlaku pada penelitian kualitatif. Meskipun data kualitatif sangat beragam, bahkan terserak tak karuan.

Untuk mendapatkan objektivitas dan keabsahan data, maka informasi penelitian yang telah dikumpulkan sebagai data memerlukan uji validitas. Bukti atas validitas tersebut ditentukan melalui uji kredibilitas temuan dan kredibilitas intepretasinya. Kedua uji untuk mendapatkan kredibilitas harus dilakukan melalui prosedur ilmiah. Jika tidak, maka dipertanyakan kembali atas kebenaran temuan data dan intepretasi dari data tersebut.

Penafsiran makna dengan realitas empiris menjadi satu kesatuan yang sinkron. Agar temuan sesuai dengan makna sebenarnya. Dan informan subyek menyetujui atas pemaknaan tersebut. Keabsahan data yang biasanya digunakan dan direkomendasikan adalah melalui uji validitas. Apa yang harus dilakukan dalam uji tersebut?

Uji validitas meminta adanya proses triangulasi. Yaitu bisa diartikan sebagai proses cros cek antar sumber. Informasi yang beragam yang disertai bukti. Terangkai dalam satuan tema yang terkait satu sama lain. Kontruksinya berdasarkan susunan dari berbagai sumber data dan informasi. Member checking ini digunakan untuk mengetahui akurasi temuan yang telah dikonfirmasikan kembali dengan subyek informan pelaku. Langkah ini menjadi langkah awal uji validitas.

Langkah kedua, deskripsi hasil temuan yang padat dan penuh dengan pengayaan teori dan empiris. Di dalamnya bermuatan dengan setting penelitian. Penyajian tema dengan berbagai perspektif. Adanya bahasan spesifik tentang pengalaman informan.

Ketiga, adanya klarifikasi. Hal ini dilakukan karena kemungkinan terjadi bias. Terjadinya jawaban yang tidak obyektif beserta penafsirannya. Demikian, diperlukan refleksi diri peneliti, yaitu kejujuran, terbuka pada semua kondisi dan jawaban informan.

Keempat, menghadirkan data dan informasi yang sifatnya berbeda. Sehingga dapat menjadi bahasan tandingan. Berseberangan dengan tema konvensional atau teori normative.

Kelima, membuka ruang pikir. Berbagi pandangan dan wawasan dengan sesama peneliti. Juga bahkan dengan para ahli sesuai topiknya. Pengayaan cara pikir dan data inilah uji validitas dilakukan.

Sementara itu, uji kredibilitas dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan melalui uji kepercayaan atas temuan penelitian. Prosedur yang dilakukan yaitu memeriksa ulang transkip guna memastikan tidak terdapat kesalahan dalam proses perubahan data. Sehingga tidak menjadikan laporan penelitian menjadi salah juga. Menghilangkan ketidakjelasan dan mengatasi bias dan eror. Ketidakjelasan dan eror dapat dihilangkan dengan melakukan diskusi dengan para pakar, diskusi juga dengan peneliti lainnya yang satu topik sama.

Selanjutnya, menguji temuan dan intepretasi yang bersifat tentative yang disandingkan dengan data dokumentasi, audio visual, foto, gambar, catatan dan lainnya. Menguji temuan dengan konfirmasi pada informan lain. Proses ini dinamakan uji kredibilitas data.

Semoga bermanfaat.

rumahmediagrup/Anita Kristina