Kebenaran Ilmiah

Sumber gambar : http://www.liputan6.com

Kebenaran Ilmiah

Seringkali muncul pertanyaan, apakah kebenaran ilmiah itu? Apakah muncul di tiap hasil penelitian? Yang dikatakan ilmiah itu yang mana? Dalam ilmiah eksata misalnya, terdapat benda yang dilempar ke atas akan selalu jatuh ke bawah. Sedangkan dalam ilmu sosial, tingkat gaji berpengaruh pada tingkat kesejahteraan karyawan. Tetapi, apakah yang ilimiah tersebut sudah objektif? Bentu tentu ya.

Ilmu dikatakan sebagai pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis. Berasal dari dalil-dalil yang disimpulkan dan disusun berdasarkan kaidah tertentu. Pengetahuan ini sudah diuji cobakan, diurutkan makna dan artinya secara menyeluruh. Jadi bisa diakui secara keseluruhan. Demikian dapat dikatakan juga bahwa ilmu menjangkau atas pengetahuan yang dirumuskan secara sistematis, melalui proses uji coba terus menerus, dan menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum.

Namun, beberapa ahli juga menyakini bahwa ilmu itu bukan hanya sistematis, tetapi juga perlu dipertimbangkan metodologi lahirnya ilmu tersebut. Sehingga yang dikatakan ilmu pasti ilmiah. Ilmu diperoleh dari cara pikir ilmiah, dari seseorang yang terampil dalam pandangannya terhadap ilmu tersebut.

Ilmu yang dikatakan memuat unsur kebenaran, maka ia menuntut bahwa di dalamnya terdapat pengetahuan yang dihasilkan oleh peneliti. Seseorang yang telah melalui proses pengamatan, memiliki kemampuan observasi, keterampilan eksperimen, klasifikasi temuan dan analisis. Kemampuan genealisasi atas temuannya dan berpikir logis, hal ini menjadi penting untuk dimiliki seorang ilmuwan.

Kebenaran yang diperoleh dari ilmu merupakan hasil dari proses berpikir. Proses ini dimulai dari rasa penasaran, rasa keingintahuan dari sebuah persoalan. Kemudian muncul minat mendefinisikan persoalan. Proses pemecahan masalah. Muncul ide rasional dan  menguatkan atas temuan. Sehingga dalam prosesnya tersebut, sebuah metode yang digunakan untuk menemukan kebenaran ini dilakukan melalui proses kehati-hatian terhadap persoalan yang ada. Sehingga tepat cara pikir penyelesaiannya ini.

Karena kebenaran diperoleh melalui metode tertentu, maka dapat dikatakan bahwa penelitian adalah metode untuk menemukan kebenaran. Berpikir kritis dalam penggunaan metode tersebut. Pencarian fakta menurut metode yang terpilih secara obyektif dan jelas. Hasil akhirnya adalah menemukan hubungan yang valid, fakta yang menghasilkan dalil-dalil, bukan hanya sebuah preposisi semata.

Betapa penting sebuah penelitian yang mampu menghasilkan sebuah kebenaran ilmiah. Karena penelitian menggunakan metode ilmiah, terdapat unsur observasi, unsur berpikir nalar dan kritis. Demikian pula dapat dikatakan bahwa penelitian itu harus berkisar pada persoalan-persoalan yang memuat berbagai fenomena, terdapat unsur orisinilitas, terdapat pemikiran keingintahuan, adanya asumsi yang dibuktikan, adanya temuan yang dapat digeneralisasikan dan tentu memuat sifat-sifat ilmiah (kejujuran).

Dalam hubungan antara ilmu dan penelitian, terdapat hubungan diantara hasil dan proses. Proses ini ditemui pada penelitian, sedangkan hasilnya adalah kebenaran itu sendiri (ilmu). Namun juga dipahami bahwa ilmu dan penelitian adalah sama-sama sebuah proses. Di dalam keduanya memuat unsur proses. Dan kembali lagi bahwa kebenaran adalah ilmu atau temuan atas penelitian itu sendiri.

Jika terdapat unsur bahwa kebenaran itu adalah kebetulan, maka dipastikan bahwa kebenaran ini tidaklah ilmiah. Penemuan atas kebenaran itu adalah memuat daya nalar yang kritis, bukan hanya menggunakan akal sehat. Kebenaran adalah wahyu, ini bukan memuat kebenaran. Hal ini belum memerlukan pembuktian lagi. Atau sering kali muncul kebenaran dipeoleh berdasarkan spekulasi, ini tidak memuat ilmiah. Jadi, kebenaran yang memuat ilmiah disebut sebagai hasil temuan penelitian yang “benar”.

Sedangkan, proposisis hanya sebuah pernyataan yang bersifat realita, sudah diuji kebenarnnya. Proposisi juga dirumuskan dari hasil temuan sementara pada penelitian kualitatif. Atau dari sebuah hipotesis pada penelitian kuantitatif. Demikian pada penelitian sosial, pernyataan atas temuan dalam proposisi masih harus dibuktikan kembali melalui ujian kritis lainnya jika proposisi ini diinginkan menjadi sebuah temuan teori. Namun harus diakui bahwa proposisi adalah sebuah kebenaran ilmiah.

Semoga bermanfaat

rumahmediagrup/Anita Kristina