Kejang Demam, Fenomena Menakutkan untuk Para Orangtua. Benarkah!

Dok. pribadi

Kejang Demam, Fenomena Menakutkan untuk Para Orangtua. Benarkah!

Jika anak Bunda pernah kejang atau jika Bunda sewaktu kecil pernah kejang, maka sempatkan membaca postingan ala kadarnya ini.

Teringat beberapa masa yang lalu. Manakala si Ade untuk pertama kalinya mengalami kejang. Saat itu ia masih berumur sekitar tujuh bulan. Badannya panas.

Tepat tengah malam, ketika saya pangku. Matanya mendelik ke atas. Tubuhnya mengeras. Tak ada respon.

Bergegas saya membangunkan suami untuk memberitahu. Untungnya semua hanya terjadi sebentar, setelah itu normal kembali. Karena tempat saya yang lumayan jauh dari RS. Besoklah baru di bawa ke dokter untuk diberi penanganan.

Setelah mendapatkan 12 tusuk jarum untuk memasang infus, barulah, injeksi itu bertahan di kakinya.

Miris, sedih, marah. Semua pasti tercampur aduk. Tapi, kali ini bukan itu yang ingin saya ceritakan.

Nah, sekitar setengah bulan yang lalu. Hal itu terjadi lagi, badannya yang panas mendadak membuat saya berkata kepada miswa.

“Yah, Bunda trauma panas si Ade kayak gini, takutnya terjadi lagi seperti kemarin.”

Sekitar jam satu malam hingga dini hari, badannya kembali panas setelah siang sampai sore turun. Ketika dini hari, menjelang shubuh tubuhnya kembali mengejang. Penuh kepanikan kami segera membawa ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan.

Tak banyak detail yang ingin saya ungkapkan perihal apa yang terjadi, bagaimana prosesnya atau apa pun itu.

Dari kejadian tersebut ada banyak pelajaran dan ilmu yang saya dapat.

Sebelumnya saya tak mengetahui, jika kejang yang terjadi pada bayi kemungkinan besar akan terulang lagi ketika anak kembali panas. Nah, saya pun mengumpulkan banyak informasi.

  1. Kejang Demam Turunan

Saya bercerita kepada Bapak saya di kampung. Jika cucu bungsunya sedang sakit dan sempat kejang.

“Ah, dulu kamu juga begitu.”

Artinya : Anak yang memiliki gen pernah kejang, maka peluang menurun kepada salah satu anaknya akan semakin besar.

2. Jenis Kejang Demam

Kejang demam sebenarnya ada dua, yaitu :

Pertama, kejang demam sederhana. Kejang demam sederhana ini biasanya terjadi sekitar 3 – 5 menit. Setelah itu anak akan normal kembali. Hal ini lah yang terjadi kepada si Ade.

Kejang demam sederhana tidak akan menyebabkan epilepsi. Tapi, tetap harus diwaspadai, karena daya tahan tubuh anak berbeda-beda. Biasanya ada gen turunan dari orangtua.

Kedua, kejang demam kompleks. Nah, jenis yang kedua yang bisa dikatakan berbahaya hingga perlu kewaspadaan tinggi ketika anak kejang, karena bisa jadi panasnya tidak terlalu tinggi, tapi kejang dapat terjadi kapan pun. Jenis kejang inilah yang bisa mengakibatkan epilepsi.

Kejang jenis ini, ketika terjadi untuk menghindari terjadinya luka pada lidah. Biasanya mulut diganjal dengan ujung sendok.

(saya tidak terlalu detail menjelaskan ini, mungkin di waktu lain)

3. Trik Cegah Kejang Demam di Rumah

Ketika anak demam, saya baru tahu kalau pemberian kompres paling efektif dan cepat itu daerah lipatan, ketiak, selangkangan, lipatan kaki. Jadi, ketika mengetahui anak memiliki kejang demam, maka antisipasi terbaik adalah memberikan kompres kepadanya untuk menghindari panas yang semakin tinggi dan mengurangi risiko terjadinya kejang demam.

INGAT! Kompresnya dengan air hangat, bukan air dingin seperti zaman dulu.

4. Tanda-Tanda Anak Akan Kejang Demam

Dari pengalaman saya, ketika anak yang pernah kejang demam. Sebelum terjadi kejang sebenarnya ada tanda-tandanya.

Apa itu?

Jadi kemarin sewaktu si Ade panas. Kepala, badannya panas sekali, namun telapak tangan dan telapak kaki dingin sekali.

Biasanya kita akan berpikir jika hal seperti itu pasti karena ada bagian tubuhnya yang keseleo. Bisa jadi mungkin juga iya, tapi, jika anak terkena kejang demam.

Hal itu, menjadi lampu kuning untuk orangtua. Artinya ketika kejang penyaluran oksigen ke otak sudah terganggu. Ini yang dijelaskan kepada saya oleh pihak medis.

Saya juga baru tahu dan mengingat kembali kejadian sebelum si Ade kejang.

Benar. Sebelum si Ade kejang tangan dan kakinya pasti dingin. Jadi, ketika anak panas, namun panasnya masih merata. Berarti saluran oksigen ke otak masih bagus.

5. Sedia Obat Anti Kejang di Rumah

Sekarang saya selalu sedia obat anti kejang yang dimasukkan lewat anus. Meski sebenarnya mempunyai dampak yang kurang baik dibanding manfaatnya.

Tapi, tak salahnya mempunyai persediaan. Apalagi jika rumah kita jauh dari pelayanan kesehatan.

6. Tenangkan Diri

Ketika anak kejang, orangtua harus tenang, meski aslinya panik. Ketenangan ini akan berdampak baik untuk sang buah hati yang sedang kejang demam.

7. Pemberian Obat Penurun Panas

Ketika anak sudah panas tinggi, maka pemberian paracetamol itu bukan lagi tiga kali sehari, tapi tiap empat jam. Sebaiknya ini konsultasikan dengan tenaga medis.

Intinya dalam kesulitan tersimpan banyak hikmah jika kita mau mengambilnya.

Ketika si Ade sakit, selain sedih saya juga mendapatkan pengetahuan baru yang lebih bermanfaat. Bersyukur dalam setiap keadaan lebih indah ketimbang mengeluh. Banyak berdoa dan menyerap banyak ilmu baru itu yang saya lakukan ketika menungg si Ade sakit.

Semoga bermanfaat.

rumahmediagrup/walidahariyani