Kekerasan Emosional

Kekerasan Emosional

Sebuah artikel yang saya baca dari salah satu group parenting. Buat saya ini menarik. Mengulas tentang ‘Kekerasan Emosional’.

Pernahkah kita melakukan hal-hal yang mengarah kepada kekerasan secara emosi?

Mungkin sebagian dari kita pernah bahkan sering melakukannya. Entah kepada pasangan atau anak-anak kita.

Kekerasan emosional adalah jenis kekerasan yang meliputi serangan secara verbal maupun ditampakkan secara tidak langsung lewat perilaku manipulatif. Misalnya meremehkan atau merendahkan, mencaci, mengancam, mengintimidasi, sikap posesif yang berlebihan, atau bahkan total mengabaikan.

Jika kita pernah melakukan salah satu dari hal berikut, maka bersiaplah menerima akibatnya.
Antara lain:

  • berbicara dengan berteriak,
  • mengeluarkan sumpah serapah,
  • berbicara dengan sikap yang tidak menghargai atau tidak bersahabat,
  • mengancam, jenis apa pun; misalnya, mengancam melukai diri sendiri, melukai atau membunuh pasangan/anak-anak, atau bahkan mengancam melukai atau membunuh hewan peliharaan,
  • berkomentar secara sarkastik,
  • menghina atau menista dengan cara menirukan kebiasaan tertentu,
  • menertawakan atau tidak bersimpati ketika pasangan atau anak-anak frustrasi atau jengkel,
  • terus menerus atau sering mengritik dan merendahkan.

Mayoritas korban kekerasan emosional tidak menyadari bahwa ia telah menjadi sasaran karena bentuknya tidak terlihat. Namun jangan salah. Meski tidak terlihat, dampak kekerasan emosional bisa justru lebih dahsyat. Mulai dari mencoreng harga diri dan rasa percaya diri hingga trauma berat, depresi, dan bunuh diri.

Lihat, mengerikan sekali bukan?!

Tanpa ada maksud menggurui, yuk kita koreksi kembali diri pribadi. Semoga kita tidak sampai melakukan hal yang mengerikan itu kepada pasangan atau anak.

Jika terlanjur melakukannya, yang pertama harus dilakukan adalah meminta maaf.

Luka akibat goresan benda tajam mungkin meninggalkan parut. Namun luka akibat caci, maki, dan teriakan akan sulit hilang. Sekiranya hal itu telah terjadi, bersiaplah kita hanya akan berteman dengan seseorang yang tak lagi memiliki emosi.

Dia hidup laksana tak hidup. Kebahagiaannya mati sebelum dia mati. Wal’iyaadzubillah.

Salam wa rahmah.

*dari berbagai sumber

rumahmediagrup/fridaaulia