Kelahiran Sang Abang

Kelahiran Sang Abang

Saat aku masih mengandung anak kedua, banyak kudengar cerita dari ibu-ibu mengenai sikap anak sulung mereka atas kehadiran adik bayi di keluarganya. Ada yang marah-marah karena cemburu, atau malah mendiamkan ibunya sebagai bentuk protes, bahkan ada yang bertindak kasar terhadap adik barunya. Sebagian pula mengalami kemunduran fase perkembangan, yang tadinya bisa makan sendiri jadi minta disuapi, yang tadinya sudah pandai BAK sendiri jadi mengompol, dan sebagainya.

Menanggapi cerita-cerita tersebut, akupun langsung mencari sumber bacaan di internet. Bagaimana cara mengantisipasi hingga mencegah terjadinya hal-hal sedemikian. Dengan keyakinan penuh di dalam hati bahwa anak sulungku pasti akan bisa menyikapi dengan baik kehadiran adik bayinya.

Inilah beberapa hal yang kulakukan selama hamil, untuk mempersiapkan sang Abang menyambut adiknya :
• Memberitahu dan menjelaskan tentang kehamilan ibunya, serta mengabarkan bahwa ia akan menjadi seorang Abang.
• Membicarakan tentang kelahiran adik bayi, dan persiapan menjelang kelahiran.
• Menjalin kedekatan sang Abang dengan calon adik, dengan cara ikut mengajak ngobrol adik bayi di dalam perut dan merasakan gerakan bayi di dinding perut ibunya.
• Menceritakan dengan jelas bagaimana bayi yang baru lahir nantinya belum bisa berbuat apa-apa dan harus selalu dibantu ibu. Belum bisa berjalan dan bermain, hanya bisa menangis, buang air, mimik dari ibu, dan tidur.
• Membawa sang Abang menjenguk bayi baru lahir, dan mengatakan bahwa adik bayinya seperti itu nanti, berukuran tubuh kecil dan masih harus selalu digendong.
• Melibatkan sang Abang dalam momen kehamilan ibunya : menunjukkan hasil gambar USG adik bayi, membacakan buku tentang kehamilan dan perkembangan bayi di dalam perut, hingga mengajaknya melakukan senam hamil bersama.

Lalu bagaimana agar Abang tidak cemburu pada adik barunya? Nah, ini yang kulakukan :

Memberinya peran penting dalam keluarga
Membiarkan sang Abang mengerjakan beberapa pekerjaan di rumah dengan memberinya tugas yang spesifik, akan membuatnya merasa menjadi anggota keluarga yang berharga. Tentu saja, tidak lupa memberi pujian dan ucapan terima kasih saat ia melakukannya dengan baik.

Menjadikan sang Abang pahlawan di mata adik kecilnya
Seringkali, aku mengajak Abang ngobrol dengan adik bayi. Saat itu sampaikan ke adik bayi dengan memperkenalkan abangnya, yang ganteng, sholeh, sudah pintar dan mandiri, serta akan menjaga adik bayi. Sebutkan semua hal bagus tentang sang Abang yang adik bayi perlu tahu.

Meluangkan waktu untuk memberi perhatian khusus pada Abang
Saat sedang tidak disibukkan dengan adik bayi, misalnya saat bayi tidur, manfaatkan waktu-waktu ini untuk menjalin kedekatan dengan sang Abang. Menemaninya bermain, mengajaknya ngobrol berdua, atau hanya sekedar memberikan pelukan, usapan dan kecupan hangat padanya.

Mengobrol dari hati ke hati
Hari-hari di seminggu awal kelahiran adik bayi adalah masa terberat bagi sang Abang untuk menyesuaikan diri dengan kehadiran adik barunya. Saat mulai terlihat ada yang tak biasa dengan perilaku sang Abang, aku mengajaknya ngobrol dari hati ke hati, menanyakan perasaannya tentang punya adik baru. Tangisnya pecah saat ia tumpahkan perasaan hatinya. Menjadi pendengar yang baik dan memahami perasaannya, adalah yang Abang butuhkan dariku saat itu. Sesi ngobrol hari itu ditutup dengan adegan kami berdua saling berpelukan sambil berderai air mata. Sejak itu, suasana hati Abang semakin membaik, dan semakin baik pula ia menyesuaikan diri serta menerima kehadiran adik bayinya. MasyaAllah tabarakallah.

Melibatkan Abang dalam aktivitas yang berkaitan dengan bayi
Mengajak sang Abang untuk ikut serta menyiapkan popok bayi saat akan diganti, bernyanyi untuk adik bayi, atau memandikan adiknya. Memberikan pujian ketika ia bersikap lembut ke adik bayinya, dan ucapan terima kasih karena sudah membantu ibu.

Alhamdulillah, Allah beri kemudahan dalam menjalaninya. Allah pula yang mudahkan sehingga Abang sudah terbilang mandiri di usianya. Kemandiriannya ini sangat membantuku dalam mengasuh sendiri kedua anakku. Banyak hal yang sudah bisa dikerjakannya sendiri :
– Makan sendiri sambil duduk teratur
– BAK sendiri
– Mandi dan memakai baju sendiri
– Membereskan buku dan mainannya sesudah selesai dipakai
– Bahkan sekarang mulai bisa main sendiri tanpa harus selalu ditemani

MasyaAllah tabarakallah, Abang, sulungku tersayang. Tepat empat tahun usiamu hari ini. Kau memang terlahir untuk menjadi seorang Abang yang baik, dan sudah terbukti saat ini.

Tak pernah ada keraguan sedikit pun di hatiku. Hanya ada keyakinan bahwa Allah akan selalu menjaga langkahmu. Dan tak pernah lepas mengiringimu dengan doa, agar Allah lindungi dirimu selalu, saat mata dan tanganku tak kuasa menjagamu.

Barakallah fii umrik, Abang. Ibu sayang Abang ❤

rumahmediagrup/arsdiani