Keluh Kesah kepada Ibu Sendiri

Keluh Kesah kepada Ibu Sendiri

Akhir-akhir ini perasaan kesal pada suami selalu muncul, dan itu benar-benar merusak mood. Kesal karena uang belanja kurang, suami kurang peka dengan kebutuhan  hidup yang semakin banyak. Lalu istri buka usaha kecil-kecilan di rumah, ujung-ujungnya malah nambah utang. Istri makin uring-uringan saat suami juga enggak mau bantu bayar utang.

Masalah ekonomi memang sering membelit dan bikin ricuh rumah tangga. Merasa disayang oleh ibu kandung karena anak perempuan beliau satu-satunya, maka mengadulah ke ibu. Bercerita panjang lebar semua aib keluarga kecil, tanggapan ibu menyejukkan hati anak. Jelas, karena dibela. Senang kan ada yang membela. 

Suami dipanggil oleh ibu, dijejali berbagai pertanyaan dan nasehat. Mulai dari pekerjaan suami yang gajinya tidak cukup untuk kebutuhan keluarga, disuruh cari usaha tambahan, hingga perasaannya sebagai ibu yang sudah melahirkan dan menitipkan pada seorang laki-laki. Pertama saat menemani suami menghadap ibu, masih bisa senyum dan berbisik, “Rasain dipanggil ibu.” 

Saat kedatangan berikutnya ke rumah ibu, adik ipar bertanya, “Sudah dapat tambahan pemasukan Mbak.” Duh, kaget dong. Dia menguping pembicaraan kami tempo hari atau ibu bercerita pada adik ipar yang serumah dengan ibu. Tamparan keras buat diri sendiri dan akhirnya jadi merasa bersalah serta malu sendiri. Suami tidak pernah mengadu ke orang tuanya kalau punya istri yang cerewet, dan sering mengadu pada ibunya. Mertua selalu menganggap anaknya memiliki istri yang ideal, walau kenyataannya dia sedih dengan kondisi rumah tangganya. 

Istri pun kini lebih sadar,sungguh lebih baik atasi sendiri masalah rumah tangga, jangan libatkan orang lain walaupun orang tua sendiri. Masalah lebih cepat selesai, dan orang lain hanya tahu bahwa kita adalah keluarga bahagia. Rezeki sudah diatur Yang Kuasa, tinggal penerimanya saja yang kurang mensyukuri nikmat yang diterima. 

Curhat dengan orang tua sendiri tidak dilarang, tapi akan lebih baik bukan aib keluarga yang dibicarakan. Menyampaikan kondisi rumah tangga yang terpuruk pada orang tua, malah membuat mereka cemas, dan setiap kita pulang menemui mereka akan selalu terlontar pertanyaan, “Bagaimana suamimu, masih begitu?” 

Aduh, lebih baik menyenangkan hati orang tua dengan bercerita bahwa rumah tangga kita baik-baik saja, sepanjang hal yang terjadi bisa diatasi antar suami istri. Ibu juga sudah lelah bertahun-tahun membesarkan anaknya lalu memberi kepercayaan seorang laki-laki untuk melanjutkan menjaga dan membuat anaknya bahagia. 

Akulah istri yang kini berusaha untuk selalu berbenah diri, lebih menghormati suami sebagai pencari nafkah dan imam keluarga. Kepada ibu, tak akan kubebani lagi masa tuamu dengan masalah keluargaku, agar hidupmu penuh ketenangan dan bahagia melihat keluarga anak-anaknya rukun.

sumber gambar : jaluraktif.com

rumahmediagrup/hadiyatitriono

One comment

Comments are closed.