Kemilau mutiaraku

Bagian I

“Astaghfirullah haladzim! Din…Dini…, Sadar Din. Pak e, Buk e…!! Cepat kesini Dini lagi gawat!”

aku berteriak spontan memanggil kedua orangtuaku. Jantungku berdegup kencang, rasa panik dan kuatir atas keselamatan nyawa saudariku.

Darah segar mengalir dari pergelangan tangan kirinya. Sepertinya dia sedang depresi berat sehingga ingin segera mengakhiri hidupnya dengan pisau cater untuk menyayat urat nadinya. Digenggamannya ada secarik kertas yang bertuliskan

“maafkan Dini, Buk e..pak e dan mbak laras aku ingin menjemput ayah dan ibu kandungku”.

Kepanikan melanda rumahku, para tetanggapun datang bergerombol mengerumuni teras depan. Mobil ambulans segera tiba, petugas kesehatan dengan cekatan segera memberikan pertolongan pertama pada Dini, kondisinya pucat tergolek lemas. Dibunyikannya cirene, mengaum… melesat memecah keramaian. Buk e dan aku tak henti-hentinya menangis, cemas dan khawatir. Menyesalkan kejadian itu

Hampir tiga jam menjalani perawatan di ruang UGD, Akhirnya dokter yang menanganinya datang membawa kabar.

“Syukurlah, nyawa putri ibu masih bisa diselamatkan, biarkan dia istirahat dulu dengan tenang jangan diganggu. Sebentar lagi kamar akan dipindahkan keruang rawat inap pasien”.

“Alhamdulillah, dok terimakasih sudah menolong anak saya”

jawab ibu dengan menangis sesegukkan.
.
.

Lima tahun yang lalu, aku mengenal Dini sebagai sahabatku yang kini menjadi saudara angkatku. Dia seorang yatim piatu anak dari sahabat ayah yang sebatangkara, atas kemauan ayahku untuk membalas Budi baik sahabatnya semasa hidup akhirnya Dini tinggal bersama kami. Aku menyayanginya seperti saudara kandungku sendiri karena aku juga anak tunggal, meski usiaku dengan dini terpaut 2 bulan lebih muda dariku tapi Dini terbiasa memanggilku dengan sebutan kakak. Keluargaku sangat menyanyangi Dini, teramat sayang, terutama buk e yang selalu memanjakan Dini, selepas SMP aku meneruskan pendidikkanku dipondok pesantren, sedangkan saudariku itu sekolah disekolah umum negri, karena buk e gak tega jika Dini harus mondok, kasihan anak yatim piatu itu alasannya.

***

Seharian dirumah sakit menjaga Dini bergantian dengan ibu. Sore itu nampak mendung tapi aku tetap berniat untuk pulang sejenak membawa baju-baju kotor untuk digantikan dengan yang bersih, memasak untuk pak e dirumah dan sisanya akan kurangsum untuk makan ibu dirumah sakit.

Setiba dirumah aku langsung melakukan semua tugasku, mulai menyapu ngepel masak dan cuci-cuci, sambil mengerjakan semua itu pikiranku selalu melayang kepada Dini, apa sebenarnya yang telah terjadi sehingga dia senekad itu untuk mengakhiri hidupnya? Karena kedekatan kami menjadi berjarak saat kami terpisah, aku hidup dilingkungan pondok pesantren dan Dini terbiasa dengan lingkungan dirumah. Lamunanku seolah mengajakku beranjak, seakan-akan berbisik

‘cari tau apa yang terjadi’
‘Tapi cari tau kemana?’ batinku bergejolak.

Bersambung

LellyHapsari/RumahMedia