Kenangan Sekejap Bersama Nenek

Kenangan Sekejap Bersama Nenek

Hari ini adik menunjukkan foto ziarah ke makam nenek Veronica Kamariyah, dari pihak ibu. Ya sekarang sedang menjelang Natal, dan nenek adalah penganut Katolik yang taat.

Nenek memang berbeda keyakinan dengan keluarga kecil orang tua kami. Namun itu tidak membuat kami terpecah belah, justru saling menghormati satu sama lain.

Aku tidak mengenal nenek dengan baik. Beliau tinggal di Jawa Tengah bersama Bude dan belum pernah berkunjung ke Jambi, tempat kami tinggal sebelum ke Bali.

Saat aku duduk di kelas 3 SMP, barulah merasakan kehadiran nenek di rumah kami, di Bali.

Teringat kenangan masa itu, aku yang tidak bisa kromo inggil atau berbicara bahasa Jawa halus dengan orang tua, menyebabkan ibu dan bapak ditegur oleh nenek. Mungkin bapak dan ibu bingung mau mengajarkan bahasa apa pada anak-anaknya, karena ibu dari Jawa Tengah dan bapak dari Jawa Barat, sedangkan kami tumbuh di Jambi yang dominan berbahasa Melayu. Apalagi sekarang di Bali!

Hal yang paling kusuka dari nenek adalah panggilan sayang untukku, Fatimah, seperti nama putri Rasulullah.

Alasannya karena aku seperti putri dari Arab dan putri satu-satunya di keluarga ibu dan bapak.

Nenek bertubuh mungil, memiliki rambut keemasan yang sangat halus. Beliau sering memintaku untuk menyisir rambutnya. Saat aku bertanya padanya, mengapa baru sekarang mengunjungi kami, beliau menjawab,

“Aku pingin bali dan istirahat ning Bali.” (Aku ingin pulang dan istirahat di sini, di Pulau Bali).

Benar saja, kebersamaan dengan nenek hanya kami rasakan selama tiga bulan saja. Beliau betul-betul pulang dan memilih peristirahatan terakhirnya di sini.

rumahmediagrup/hadiyatitriono