Kenapa Tidak ?

“Kenapa tidak ?”

Mamah Selly, wanita 40 tahunan, yang masih sangat cantik diusianya itu menatap ku sekilas. Matanya kembali tertuju pada kue hidangan di depan kami.

“Ray bukan anak idiot. Dia bisa menulis, membaca, berhitung. Lihat!”

Dokumen pribadi

Tangan mama Selly menunjuk Ray yang asyik bermain dengan tumpukan kertas koran disudut ruangan.

“Private disini aja.” Jari tangannya mengetuk sandaran kursi yang dia duduki. Aku masih diam, memperhatikan gesture wanita didepan ku yang selalu stylish dalam berpenampilan.

“Bagaimana dengan sosialisasi Ray?”

Pundak mama Selly terangkat, matanya yang bening dengan kelopak mata penuh eyeshadow menatap bingung.

“Kasihan mah, disini Ray hanya belajar akademik saja. Padahal sebuah pendidikan sangat kompleks, ia harus mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.” Mataku melirik mama Selly, terlihat ada keraguan. Lebih pada galau aku pikir. Duduknya terlihat tidak nyaman, beberapa kali merubah gaya.

“Di sekolah Ray bisa bertemu teman sebaya, bisa bermain, bersosialisasi. Ray akan belajar banyak pada kegiatan itu. Kemampuan Ray mengelola ranah afektifnya terasah.”

Kepala mama Selly terlihat mengangguk kecil, “Tapi nanti aku bingung menjawab pertanyaan teman-teman.” Wajahnya sendu, kegalauan terlihat jelas pada wajahnya.

“Apa ?”

“Saat mereka bertanya Ray sekolah dimana ?”

Aku meringis, begitulah emak sosialita. Selalu galau saat ketahuan dirinya memiliki kekurangan.

“Tidak masalah mah, saya yakin teman-teman mama Selly akan memahami.”

Wajah mama Selly terangkat, menatapku dalam. Aku mengangguk pasti, memegang punggung telapak tangannya.

“Kita ingin yang terbaik untuk Ray.”

Mama Selly mengangguk pasti, wajahnya terlihat lebih cerah.

Rumahmediagrup/srisuprapti