Kepercayaan dalam Hubungan Industrial

sumber gambar: www.sdmindonesia.com

Kepercayaan dalam Hubungan Industrial

Hubungan industrial yang harmonis merupakan perwujudan dialogis antara pengusaha, organisasi pekerja, lembaga organisasi pengusaha, peraturan perusahaan, kesepakatan perundingan atas perselisihan. Efektivitas hubungan industrial yang harmonis ini memacu daya saing dan peningkatan produktivitas. Modal sosial yang harus disediakan yakni kepercayaan. Bagaimana mitra industri yang kuat dan dialog sosial yang efektif di antara aktor bisa terjadi? Jawabannya adalah penguatan kepercayaan.

Kepercayaan merupakan jaminan yang paling mudah dibuktikan dengan kesungguhan dan komitmen untuk menjaga hubungan industrial yang harmonis. Harapan kesepakatan yang diikat dengan rasa saling percaya. Kepercayaan juga akan timbul tanpa melihat perbedaan agama, etnis, budaya daerah, kelompok sosial, jender dan pekerjaan atau tipe usaha. Hal ini berlaku juga pada kelompok internal, walaupun di dalamnya penuh dengan kepentingan-kepentingan. Agar perbedaan kepentingan tersebut tidak nampak besar, dibutuhkan kompromi.

Keinginan berkompromi memainkan peran penting dalam kepercayaan. Hal ini mensyaratkan semua aktor telah mematuhi peraturan bersama, walaupun terkadang aturan tersebut tidak disukai. Jika keinginan kompromi ini hilang, maka sedikit kepercayaan yang tersisa. Tumbuh rasa ingin mengalahkan pihak lain, dan bahkan memaksa pihak lawan untuk menyetujui perjanjian bersama yang telah dibuat. Perilaku ini seringkali muncul sebagai bentuk kepentingan dan upaya untuk menciptakan keberuntungannya sendiri.

Pencapaian kompromi mengarah pada kepercayaan yang ditujukan pada harapan bersama. Menghormati hak-hak minoritas dan mengedepankan aturan bersama menjadi sikap dasar tumbuhnya kepercayaan. Mekanisme penyelesaian konflik dengan kompromi ini seringkali dialami oleh industri kecil. Jika konflik terjadi pada industri besar yang memiliki pengaruh besar maka bisa saja kompromi dilakukan melalui pembuatan kesepakatan baru. Aturan baru yang memuat kepentingan-kepentingan pihak yang berkonflik. Di antaranya mekanisme upah, jaminan sosial, hubungan kontraktual dan status pekerjaan.

Konflik perselisihan memang tidak dapat dihindarkan. Mencegah konflik menjadi sebuah kearifan hubungan industrial. Melalui mufakat dan berunding menyampaikan perbedaan dengan santun adalah simbol kepercayaan kerjasama. Tetapi jika saling percaya maka kompromi akan semakin mudah dilakukan. Tidak ada kepercayaan, seberapa sempurna sebuah hubungan industrial maka hubungan industrial tersebut dapat dipastikan tidak berkualitas. Menjaga kualitas tersebut dapat dilakukan melalui memupuk rasa kepercayaan antar mitra.

rumahmediagrup/ Anita Kristina