Kesombongan adalah ketiak

By Gina Imawan

Kesombongan adalah ketiak. Iya, ketiak. Letaknya tersembunyi. Tak terlihat. Atau sengaja tak diperlihatkan? Namun aura dan baunya menyebar luas kemana-mana.

Aku yakin, tak ada seorang pun yang ingin disebut sombong. Pongah. Songong. Atau aneka jenis kata lain yang mengartikan hal yang sama. Dan tak ada satu orang pun yang menyadari dirinya sombong. Karena sifat itu berarti negatif, aura menyebalkan, bibit-bibit kebencian, benih-benih kecemburuan. Kau pasti tak mau disebut biang penyebar virus mematikan, bukan? Begitu pun aku.

Susah melihat orang lain senang. Senang melihat orang lain susah. Menganggap diri paling penting. Lebih dari yang lain. Memperlakukan orang lain laksana Cinderella tanpa sepatu kaca dan pertolongan ibu peri.
Berkata-kata tanpa memikirkan perasaan lawan bicara. Celetukan karet gelang dua alias pedes. Itu hanya sebagian sikap yang biasa kita lakukan saat kita sombong.

Ya, kesombongan adalah kita. Kita yang tanpa sadar menganggap remeh orang yang tidak selihai kita dalam suatu urusan. Padahal bisa jadi dia master dalam urusan lain. Kita yang sering melirik setajam silet pada orang yang kita sadari lebih hebat dari kita sambil menyembunyikan prasangka-prasangka buruk tentangnya. Padahal kita tak tau apa-apa tentang dia.

Kita yang suka merasa dia yang makan di emperan jalan berarti miskin. Dan kita yang makan di cafe adalah kaya. Walaupun setelah itu kita menelan ludah plus menggerutu karena harus bayar pajaknya juga. 10% juga duit kallee…

Kita yang sering kali bangga bisa bayar belanjaan pake kartu kredit dan menertawakan mereka yang bayar dengan uang tunai karena merasa lebih ‘keren’. Lalu meraung-raung setelahnya karena merasa tolol terjerat hutang riba. Bunga yang terus berbunga.

Sombong pula pada ilmu yang dipunya. Ibadah yang kita rasa telah melimpah ruah. Meruap-ruap beraneka. Kekuasaan yang sedang dalam genggaman. Padahal sejatinya semua fatamorgana. Lalu memandang kecil mereka yang di mata kita ‘tak seberapa’. Berasa surga telah didepan mata. Menganggap diri tanpa cela.

Kritik sedikit, hajar. Beda sedikit, kafir. Nasehat sedikit, urus aja hidupmu sendiri. Ambooooii…betapa manis lezat berbisa. Padahal hadits shohihnya berkata, ‘tak akan pernah masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan, walau hanya sebesar dzarrah’.

PLAK

PLAK

PLAK

MENGE-PLAK DIRIKU SENDIRI

Kesombongan adalah ketiak. Tertutup. Tersembunyi. Namun memberi warna pasti dalam hidup kita. Olesan deodorant yang salah malah membuat baunya tambah parah. Ketiak kita menghitam. Kesombongan yang tak disadari akan membuat hidup kita laksana berjalan diatas bara. Membara. Gerah. Gelisah. Panas. Kelam.

Apa yang menyejukkan dari hidup demi gengsi dan standar tinggi?

Jawabnya pasti tak ada. Lelah hari. Lelah hati. Buang-buang waktu. Tenaga. Fikiran. Untuk sesuatu yang mudah basi. Tak juga akan dibawa mati. Hanya membuat jiwa keras dan tak lagi punya empati.

Kesombongan adalah ketiak. Yang merasakan baunya orang-orang di sekitar kita. Ego dan kepercayaan diri kita akan selalu merasa tak ada yang salah. Maka…

K-etika orang-orang disekeliling mulai bersikap beda. Tanyakan pada hati nurani ‘ada apa?’. Tak eloklah bila kita langsung menganggap mereka yang sentimen serta iri pada kita. Tak akan ada asap tanpa api.

E-nyahkan prasangka-prasangka buruk. Fikiran-fikiran negatif. Rasa iri dan dengki. Berlatihlah. Susahnya memang kaya belajar maen sirkus. Sering jatuh dan tergelincir. Namun, ala bisa karena biasa, bukan?

T-anyakan baik-baik pada orang lain. Adakah perilaku kita yang membuatnya tak berkenan. Minta maaflah bila ada. Meminta maaf tidak akan membuat kita jadi rendah. Justru memperlihatkan kebesaran jiwa seorang satria.

I-ngat baik-baik untuk tidak mengulangi perbuatan yang menyakiti. Setiap orang berbeda. Cobalah mengerti sifat masing-masingnya. Kau bisa becanda gila-gilaan denganku. Belum tentu pada yang lain.

A-ndaikan saja yang diperlakukan sadis plus semena-mena itu kita. Ooh sakitnya pasti merasuk ke dalam jiwa. Membuat murung. Menggoreskan luka. Atau bahkan menjadi lebih parah. Menyirami kecambah dendam. Nabi Muhammad bilang, ‘perlakukanlah orang lain seperti engkau ingin diperlakukan’.

K-adangkala kita sudah bersikap baik. Tetap bertemu dengan tipe orang yang bawaan oroknya memang sombong. Semena-mena. Itu bisa jadi sawah pahala bagi kita. Sengaja nulis sawah pahala nih, karena ladang pahala udah terlalu mainstream. Pahala kesabaran. Pahala berusaha menasehati. Pahala peduli. Pahala menjaga hati.

Oh ya, pengaruh teman. Luar biasa. Teman itu cermin. Cermin diri yang jujur. Mendekatlah dan berteman dengan orang-orang orang baik yang mau bersamamu hingga ke surga Allah. Maka mereka akan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik bersamamu.

Bagaimana kalau aku yang jadi si sombong itu? Gampang, teman-teman. Pegang tanganku. Keplak saja aku. Lewat lisan bisa. Pakai tulisan pun boleh. Jangan pake fisik ya, gaes. Karena dikeplak pake fisik itu berat. Aku nggak akan kuat.

Lebih dari itu. Jangan lelah berdo’a untukku.

Bagaimana kalau ternyata si sombong itu kamu? Waaah….itu santapan lezat! Hehehe. Percayakah kamu kalau aku akan melakukan 6 langkah KETIAK diatas? Plus 1 langkah PEGANG TANGAN juga?

Lebih dari itu. Aku takkan lelah berdo’a untukmu.