Ketika Indra Perasa dan Indra Penciuman Tak Berfungsi

pixabay

Ketika Indra Perasa dan Indra Penciuman Tak Berfungsi

Hari demi hari, waktu demi waktu terus melaju menderu, beraneka rasa masakan dan sebaneka aroma yang tercium menerbitkan hasrat dan menggurihkan suasana.

Berbagai rasa dikecap dengan lahap, lagi dan lagi, sesak rasa di lambung, namun hasrat masih menggebu, inilah nikmat, mengucur tak tersendat.

Melintasi tetanaman dengan bebunga yang mekar berseri. Wangi semerbak menelikung penciuman sampai ke hati. Aroma zat tersemat memeriahkan rongga kehidupan. Inilah nikmat, tiada cela tiada cacat.

Sampai satu saat, kenapa semua rasa berubah menjadi hambar. Ke mana si manis? Ke mana si asin, asam, pedas? Ke mana semua rasa itu? Apakah sudah pamit dari dunia ini? Hanya rasa pahit yang turut juga bersemayam. Ketir!

Ada apa dengan penciuman ini? Ke mana perginya aroma kehidupan yang memberi nuansa kesegaran? Semua tiada rasa, tak beraroma.

Hari demi hari berbalut hambar. Melewati kisaran waktu dengan kehampaan selera dan kelesuan pernafasan. Berminggu-minggu merajang jiwa menerbitkan lara. Kelezatan dunia jadi sirna.

Barulah tersadar dan terasa, akan kedigdayaan Yang Maha Kuasa, kesempurnaan-Nya mencipta sepotong organ yang berkemampuan mengecap dan membaui beratus ribu rasa dan aroma.

Betapa sangat mahalnya nikmat itu, yang baru terasa manakala telah dicabut-Nya. Hal kecil yang besar. Hal sepele yang agung.

Dia hanya ingin menunjukkan bahwa jangan pernah meremehkan sekecil apa pun penciptaan, hatta sehelai bulu mata sekalipun. Ingatlah Raja Namrud mati gara-gara seekor nyamuk yang masuk ke hidungnya. Ingatlah Jalut si manusia raksasa mati hanya dengan lemparan batu dari ketapel seorang Dawud.

Kesehatan selagi dia ada, mari pergunakan sebagai wasilah yang membawa semakin mendekat kepada-Nya. Saat dia lenyap, kesempatan beramal pun turut lenyap!

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)