Ketika Surut (1)

Ketika Surut (1)

Satu Minggu Tiga Hari

Saya tidak mengutuk banjir yang saya alami, walaupun dari jam 10 pagi hingga jam 11 malam saya terjebak di rumah sendiri. Tidak juga memaki para tim evakuasi yang tidak menyelamatkan saya dan suami. Mereka pasti juga telah berusaha menyelamatkan warga yang lebih membutuhkan seperti anak-anak, balita, perempuan dan para lanjut usia. Terlebih lagi jika mereka dalam kondisi sakit.

Sekarang saya bisa beranggapan, karena mereka tidak mengevakuasi saya, artinya saya dan suami dianggap kuat dan mampu berusaha sendiri. Ini juga yang menjadi pendorong keberanian kami keluar dari kepungan banjir.

Setelah selamat dan berlindung dari hujan di mobil, mulailah saya meleburkan diri dalam pasrah akan ketentuan Allah. Ketegaran dan ikhlas terbangun dengan sendirinya. Bersyukur itu lebih penting daripada meratapi harta benda.

Malam itu, kami mengungsi ke rumah kakak pertama saya. Dingin dan lapar bersekongkol menggoda kami untuk menunda istirahat lalu menyantap mie instan yang disediakan kakak. Selanjutnya kami istirahat mengumpulkan tenaga menghadapi segudang problema setelah surut.

Keadaan jalan menuju rumah dari gerbang belakang perumahan.

Banjir di perumahan mulai surut sejak subuh. Jam delapan pagi hanya tersisa lumpur di jalanan. Sisa-sisa banjir sungguh membuat miris hati. Setiap tetangga yang berpapasan hanya bisa saling komentar sambil tertawa.

“Gue bingung, mau mulai dari mana ya?”

Betul, karena semua perlu dibersihkan. Pastinya di awal akan kebingungan mana yang harus diprioritaskan. Kalau saya, begitu sampai di rumah dan melihat keadaan, saya mantapkan diri bahwa saya tidak akan lagi menimbun barang.

Tahap awal pembersihan ala saya, keluarkan semua barang-barang ke area yang lapang. Semua saya letakkan di teras dan carport depan. Bisa sekaligus memilah mana yang perlu dibersihkan untuk dipakai lagi atau mana yang harus dibuang. Jika mau dibuang, keluarkan dari area rumah atau kumpulkan ke wadah besar seperti plastik sampah. Jika akan dibersihkan lebih baik diletakkan terpisah sesuai dengan jenisnya.

Usahakan jangan menumpuk barang tidak beraturan. Hal ini nantinya akan memudahkan kita dalam proses pembersihan. Pisahkan tumpukkan pakaian, kumpulan perabotan serta barang pecah belah, elektronik, sepatu, tas dan lain-lainnya.

Hati-hati saat menyisir barang-barang di dalam rumah. Khawatir ada pecahan kaca atau paku dari lemari yang berceceran. Sebaiknya gunakan alas kaki atau sepatu boot.

Saya merelakan kasur-kasur yang dipenuhi lumpur tebal untuk dibuang. Begitu juga dengan lemari, serta rak kayu. Jangan tanya tentang nasib buku-buku kami yang jumlahnya satu rak besar yang menjulang tingginya dari lantai hingga langit-langit rumah selebar enam meter dinding kamar.

Tanpa melihat lagi buku apa atau buku milik siapa. Kami relakan buku-buku itu masuk ke dalam kantong sampah. Begitu juga dengan perabotan dapur, saya tega memisahkan wadah plastik biasa dengan wadah dari merk tertentu idaman para ibu tumah tangga kebanyakan. Sudah pasti, saya mempertahankan perabotan plastik idaman itu, dong😀

Sama halnya dengan pakaian. Saya buang koleksi yang sebelumnya saya niatkan akan saya pakai lagi jika sudah kurusan. Walau sampai sekarang nggak kurus-kurus. Maka saya terima nasib saja, pakaian itu saya masukkan plastik sampah khusus pakaian.

Memilah barang-barang seperti ini bisa makan waktu seharian. Jaga stamina diri. Berkutat dengan lumpur dan kotoran pasti lelah. Tetapi pastikan kita menjaga asupan makanan dan minum yang cukup. Sempatkan istirahat sejenak sambil menikmati minuman hangat.

rumahmediagrup/gitalaksmi

One comment

Comments are closed.