Kisah Muhammad bin Abdullah mengenai Malam Nishfu Sya’ban

Kisah Muhammad bin Abdullah mengenai Malam Nishfu Sya’ban

Sahabat, kini kita telah memasuki bulan Sya’ban. Di kalangan sebagian masyarakat muslim meyakini akan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Maka, mereka pun menghidup-hidupkan malam Nishfu Sya’ban tersebut dengan banyak-banyak beribadah. Berikut adalah sebuah kisah tentang Abu Khafsin al-Kabir yang diceritakan oleh kawan dekatnya, Muhammad bin Abdullah Abdullah yang penulis ambil dari Tarjamah Duratun Nasihin yang ditulis Ust Abu H.F. Ramadlan BA.

Seorang zahid bernama Muhammad bin Abdullah pernah bercerita tentang kawan dekatnya yang bernama Abu Khafsin al-Kabir. Saat Abu Khafsin al-Kabir meninggal dunia, Muhammad bin Abdullah pun menyalati jenazahnya. Selama delapan bulan berikutnya, Muhammad tidak menziarahi kubur kawannya itu. Muhammad bin Abdullah menceritakan bahwa suatu malam dia tidur dan mimpi bertemu dengan Abu Khafsin dengan wajah yang terlihat pucat. Muhammad memberinya salam, tapi Abu Khafsin tidak menjawabnya.

Muhammad bin Abdullah pun bertanya, “Subhanallah, mengapa Anda enggan menjawab salamku?”

“Menjawab salam adalah suatu ibadah, sedangkan kami telah terputus dari ibadah,” jawab Abu Khafsin.

Muhammad bertanya lagi, ‘‘Mengapa mukamu terlihat pucat, padahal dulu kamu berparas tampan?”

“Ketika aku diletakkan dalam kubur, seorang malaikat datang, tegak di sisi kepalaku, Malaikat itu membentak dan mengataiku orang tua yang jahat. Dia pun menghitung dosa-dosa dan keburukanku. Lalu, dia memukulku dengan sebatang kayu hingga tubuhku terbakar. Bahkan, kubur pun berkata padaku, tiada malukah engkau kepada Tuhanku? Kemudian dia menghimpit tubuhku kuat-kuat, hingga menjadi  hancurlah tulang-tulang rusukku. Berserakanlah persendian tulangku. Aku disiksa hingga awal malam Sya’ban. Saat itulah datang suara menyeru  dari atasku, ‘Hai malaikat, angkatlah pemukul darinya, sebab ia pernah menghidup-hidupkankan salah satu malam pada bulan Sya’ban sepanjang usianya. Dia pun pernah berpuasa sehari pada bulan itu. Maka, Allah Swt. melenyapkan siksa dariku berkat kemuliaan malam Sya’ban dengan puasa dan salat pada malam harinya. Kemudian Allah memberi kegembiraan padaku dengan surga dan rahmat-Nya. Itulah sebabnya Nabi saw. Bersabda, “Siapa menghidupkan dua malam hari raya, dan malam nishfu Sya’ban, maka tidak matilah hatinya ketika umumnya hati manusia mati.” (Zahratur Riyadl)

*Wallahu a’lam bishawab*

#RMG_kisah_sinur

rumahmediagrup/sinur