Kita Bermusuhan

Kita Bermusuhan

Bersembunyi di balik tentakel terbalut tinta hitam diselingan biji tomat hijau dan rawit merah. Menyaru, tidak tampak rupa dan ciri khas yang pasti akan kusingkirkan jika menemukan wujudmu. Memang, tampilanmu menawan dengan mata bulat kehijauan yang terus menggoda siapa saja walau sekedar asal sentuh. Kau biasa tergantung mulus seolah berlomba tampil dengan bungkus kesegaran.

Sepertinya kau lihai menyatukan diri dengan asam garam hidup berpadu pedas bibir yang terbiasa melantunkan manisnya kenikmatan. Tak juga kudapat absurd ketika pengecap rasa beradu denganmu. Aroma kuat yang menguar tak jua terhirup. Antara ada dan tiada.

Kau hancurkan diri bersama geraham lalu ikut perlahan untuk dicerna dan diserap. Akibat ulahmu, kutanggung derita semalaman. Mengaduh dan meraung-raung ketika pekat malam membasuh setengah badan. Menciptakan renungan kloset berkali-kali. Seperti diterajam tepat bagian ulu hati. Melilit dipuntir sesak menuntut serdawa.

Baiklah, Petai!

Mulai hari ini, kita bermusuhan!

rumahmediagrup/gitalaksmi