Kita Butuh Perang Ini

Mendengar kata perang, biasanya yang terbayang di kepala adalah kesulitan, kesusahan, kekurangan, penderitaan, kesedihan, kehilangan. Segala hal negatif biasanya dirujuk oleh perang.

Namun, tak semua perang membawa dampak negatif. Ada peperangan yang justru membawa kebahagiaan. Contohnya, perang tulisan.

Sebentar, ini sedikit ambigu. Beberapa orang menganggap perang tulisan adalah mengomentari tulisan dengan tulisan, mengomentari peristiwa dengan tulisan, membantah tulisan dengan tulisan.

Padahal, maksud saya dengan perang tulisan adalah berani menantang diri untuk menulis segala jenis tulisan.

Terkadang, seorang penulis merasa keahliannya (karena sudah terbiasa) berada di ranah non fiksi. Ia merasa kaku bila harus merambah dunia fiksi. Ia ragu untuk memulai atau mencobanya, karena mindset ‘susah ah!’ telah lebih dulu bersarang di kepala.

Renungkanlah, kapan seorang anak tahu bahwa dia tidak bisa? Tanpa intervensi—kalau mau jujur—anak kecil selalu berusaha hingga bisa. Sayangnya, orang di sekitarnya sering meracuni pikiran dengan mengatakan ‘susah’, ‘berhenti saja’, dan aneka ucapan negatif lainnya.

Sebaiknya, ketika dewasa ini, kita adopsi lagi pikiran ‘belajar tanpa takut’. Kita asah lagi keberanian untuk mencoba. Kita adakan perang menulis untuk mengetahui, benarkah saya tidak mampu menulis sesuatu?

rumahmediagrup/fifialfida