Kopi dan Keakraban

Kopi dan Keakraban

Baru saja menghempaskan diri di kenyaman sofa ruang keluarga rumah tante. Adik sepupu langsung mengajukan pertanyaan

“Teteh, mau kopi apa?”

Senyum mengembang seketika di wajah saya, sepertinya dengan melihat binar mata yang terhalang kacamata pun, adik langsung paham bahwa kopi apapun saya pasti menikmatinya.

“Teteh mau kopi paling enak ala typical coffee.”

Salah satu sajian kopi dari Typical_Coffee

Adik saya yang satu ini memang hobi meracik kopi, kalau ada acara keluarga besar, dia yang menyediakan berbagai minuman dan makanan ringan. Ibaratnya, lelaki yang hobi bereksperimen dengan kopi dan mengulik bumbu masakan ini adalah chef keluarga.

Dari hobinya itu, adik bersama keluarga sedang merintis usaha menyediakan berbagai minuman kopi yang dijual secara online, typical_coffee. Panggil saja dengan alasan ‘ngopi akrab’, maka dengan sendirinya para sepupu dan handai taulan lainnya akan berdatangan, kumpul, lalu semua bebas berekspresi merekatkan silaturahmi dalam bungkus persaudaraan.

Kopi dan keakraban adalah teman sejati. Dari secangkir kopi yang terhidang akan menjadi pembuka obrolan penuh keakraban, tidak perlu sibuk dengan rangkaian filosofi kopi untuk meraih kenikmatannya. Karena nikmat atau tidaknya minuman jenis apa saja yang akan disajikan, berawal dari keberhasilan membuat cairan pekat yang pahit, espreso. Sama halnya untuk secangkir kopi sederhana, kopi tubruk, membutuhkan sentuhan peracik yang mengerti cara menyajikannya.

Jangan juga terlampau fanatik, pada kopi tertentu dengan mempertanyakan berapa meter di atas permukaan laut pohon kopi itu tumbuh. Tak perlu sampai ikut menyelidik apakah pohon itu tumbuh di daerah dengan suhu optimal di antara 18 – 26 derajat.

Setiap jengkal tanah akan menghasilkan biji kopi yang unik dan berbeda. Dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia memiliki biji kopi dengan ciri khas rasa dan aroma tersendiri, dari perbedaan itulah lidah para penikmat kopi menemukan jodohnya. Robusta atau Arabika, itu hanya pilihan varietas.

Pecinta kopi pastinya paham apa yang berlebihan pasti tidak akan menghasilkan kebaikan. Maka, pahami waktu terbaik untuk menikmati kopi serta berapa banyak seduhan kopi yang sewajarnya dapat diterima oleh tubuh kita.

rumahmediagrup/gitalaksmi

2 comments

Comments are closed.