Kunang-Kunang

Dalam temaram di sekitar bukit persawahan, gelap yang kau tembus dengan setitik lentera yang kau bawa, kecil tapi begitu mengesankan
Kau sangat langka, karena aku mengenalmu saat kanak-kanak.

Aku suka mencarimu, biasanya selepas Magrib dalam suasana kampung yang sepi dikelilingi persawahan tanpa televisi, tanpa gadget apalagi internet. Sebuah zaman yang masih asri dan sederhana, masih kental dengan suasana malu dan tabu.

Hanya berbekal tas kresek bening untuk menangkapmu, begitu susah tapi riang bukan kepalang jika aku berhasil mendapatkan, kemudian bergegas mengurungmu dalam toples bening milik ibuku, semua lampu kupadamkan agar ternikmati kerlap-kerlip cahayamu.

Tapi untuk saat ini kau hanya tertera dalam gambar dan cerita, hingga anak-anakku tak lagi mengenalmu bermain dengan bias indah sinarmu.

Kau adalah sama sepertiku, korban penguasa dengan janji imitasi tergusur oleh kepentingan pemuasan diri, di mana sawah tergusur menjadi jalan mulus yang berbayar dan ladang subur terkubur menjadi bangunan rumah-rumah pagar besi.

Kunang-kunang binatang kecil yang tahu diri, merasa terzalimi, mereka pun pergi, dan lentera kecil itu takkan kudapati lagi, tapi pesan moral darimu, walaupun kecil dan sendiri, meski terbatas tetaplah menyinari seberapa kau mampu memberikan makna dan cahaya di sekelilingmu.

Kunang-kunang, aku merindukanmu seperti aku merindukan masa-masa kecilku.

Penulis: Lelly Hapsari

Editor: Ilham Alfafa

Rumah Media Grup