Kurindukan Ibuku

Bagian III

Dua tahun sudah terlewati, terlunta lunta dijalanan menjadi dewasa diantara kepulan debu dan asap metropolitan, lingkungan kotor jauh dari binaan, membuat Ningrum kini berubah menjadi anak yang bengal, ia acapkali terpaksa ikut mencopet dipasar atau terkadang mengutil diwarung-warung makanan semua itu dengan alasan karena lapar! Siapa yang perduli akan nasibnya? Bocah cacat yang sebatangkara hanya akan menambah beban bagi yang memungutnya.

Hari itu cuaca mendung, sejak seminggu yang lalu sudah masuk musim penghujan. Sudah dua hari ini Ningrum tidak makan, sama sekali tidak ada persedian untuk dimakan dan sudah dua hari ini pula ia menderita panas demam, perutnya keroncongan mendesak segera di isi tetapi tangan dan kaki mungilnya tak kuat untuk menopang berjalan, lemas. Disudut kumuh bawah jembatan Ningrum menangis tiada yang perduli, merintih seraya memanggil nama Alloh seperti yang pernah diajarkan mbok Darni.

Tangis lirih seolah mewakili kata hati, diraihnya sebuah kertas buram bekas bungkus makanan, kemudian dia mulai menuliskan surat kepada Tuhan.

Untuk Alloh…

Kata mbok Darni Engkau maha pengasih dan penyayang, tapi apakah engkau menyayangiku?ya Alloh…aku kepingin sekali ketemu ibuku, menatap wajahnya, sekedar memberiku makan dan tempat tinggal, aku tidak membencinya meskipun ibuku telah meninggalkanku didesa, jika engkau perbolehkan ijinkan aku menitip pesan, kirimkanlah ibu kepadaku agar aku tau bahwa aku memang masih memiliki ibu…

Aku sayang ibu

Tubuh Ningrum yang kurus menggigil, tapi suhu tubuhnya panas kian meninggi tak tertahankan dalam tangis kepedihan kesendirian, tanpa seorangpun yang ada membelai sayang, mata Ningrum semakin sayu dan perlahan terpejam. Malaikat Izrail datang menghampiri dengan senyum yang penuh iba, dalam suasana hening ruhnya pun kembali meninggalkan jasadnya dalam kesendirian, Ningrum meninggal dibawah kolong jembatan berjarak 1 meter dari sungai aroma comberan.

Esok paginya, ramai orang-orang mengerumuni jazad gadis kecil itu, tampak beberapa orang polisi sibuk mengurusi, jasad Ningrum diangkat masuk mobil jenazah. Surat untuk Alloh yang semula dalam dekapannya, lepas jatuh diterbangkan angin hingga terdampar dalam liarnya arus sungai, pesannya telah menyatu bersama berhentinya sang waktu.

Lelly Hapsari/RumahMedia