Kurindukan ibuku

Bagian I

Guratan rindu pada wajah berdebu merekam jejak wajah wajah lusuh, berusaha memyimpan segenap rasa kegelisahan akan masa depan. Tubuhnya yang kecil seringkali menggigil menahan dingin tanpa selimut dan bantal juga tanpa kasur. Baginya selembar atau dua lembar koran bekas sudah cukup sempurna untuk alas tidur setiap malamnya, sambil berharap menemukan hidangan lezat dan kegembiraan yang sesaat walau dalam mimpi tidurnya.

Ningrum, adalah gadis kecil usia 8 tahunan, sudah siap berjuang melawan kerasnya kehidupan, dia adalah salah satu anak jalanan korban orang tua yang lalai dalam asuhan, Ningrum adalah sosok kecil yang terlahir atas kuasa Alloh, tetapi tidak dikehendaki kedua orangtuanya, dia terlahir diluar pernikahan yang syah. Berkali kali berusaha digugurkan tetapi tetap saja kuasa Alloh yang bertahan, hingga suatu ketika, seorang bayi terlahir disebuah gubuk sederhana atas bantuan dukun beranak di desa yang jauh dari hiruk pikuk kota. Bayi mungil itu berparas cantik, putih dan gebu tapi sayangnya ada cacat di mata sebelah kiri, serta jari jemari mungilnya tidak lengkap, membuat sang ibu begitu tega langsung meninggalkannya.

“Mbok Darni, terimakasih sudah membantu persalinanku, mbok. Tapi aku tidak menginginkan anak itu, apa kata keluarga serta teman temanku nanti? Kalau mbok Darni bersedia, lebih baik bayi ini aku tinggalkan buat mbok saja, ini ada uang 10 juta sebagai pengganti perawatannya”.

” oalah….nduk, mbok ini memang orang kampung, tapi rasanya kok gak tega ya klo harus menyia nyiakan bayi ini, coba disusuin dulu pasti kamu nanti merasa sayang”.

“Sudahlah mbok, saya tidak tertarik pada bayi cacat itu, yang selalu menyusahkan hidupku, besok saya sudah harus pulang ke jakarta, dan kembali meneruskan kehidupanku yang telah terhenti karena mengandung bayi itu”.

” Hemmm…. Ya sudahlah kalau maunya kamu seperti itu, biar bayi ini mbok rawat sendiri sebagai pengganti keluarga mbok yang sudah pergi ke pangkuan Illahi, kebetulan mbok ini juga sebatangkara.”

Enam tahun sudah berlalu, dan bayi kecil itu bernama Ningrum. Meski dalam kondisi mata sebelah yang cacat, dan tangan yg tak sempurna, Ningrum termasuk tipikal anak yang pede, tidak pernah minder dengan segala kekurangan fisiknya, hatinya yang baik dan suka berwelas asih, membuat mbok Darni sangat menyayanginya, tapi tidak begitu lama pengasuhan mbok Darni harus berakhir. Beliau meninggal karena sakit sesak nafas yang telah lama dideritanya, gubuk sederhana itu kini hanya tinggal ningrum seorang diri mengulang sejarah sebatangkaranya mbok Darni. Meski usia bocah itu baru 6 tahun tapi dia mempunyai pemikiran yang cerdas dan dewasa dibandingkan anak anak seusianya.

Sore itu, tanpa sepengetahuan para tetangga, Ningrum sibuk berkemas kemas seperti hendak berpergian jauh. Dia teringat kata kata mbok Darni, “Rum, ibumu itu orang kota, orang jakarta. Orangnya cantik rambutnya panjang seperti kamu, tapi mbok tidak tau alamat rumahnya, semoga kelak kamu bisa berjumpa dengan orang tuamu nduk”.

Dengan berbekal beberapa baju dan kain selimut, juga uang recehan hasil memecahkan celengan, gadis itu berjalan menyusuri jalan yang sepi menuju jalan raya utama, jaraknya sekitar 2km dari rumahnya, ketika terdengar adzan Maghrib Ningrum mendapat tumpangan mobil yang memuat sayur mayur menuju ibu kota.

Bersambung

LellyHapsari/RumahMedia