Ladang Pahala (Bagian 2)

Ladang Pahala (Bagian 2)

Selepas magrib berjamaah, kubersimpuh di pangkuan suami. Air mata berderai membasahi mukenaku dan sarungnya. Hanya menangis, tak mampu mengucap kata. Tepukan lembut tangannya yang kokoh dan usapan pada punggungku mendamaikan perasaanku yang sedang kalut setelah mendengar kabar mamih yang baru saja tiga hari lalu sehat setelah perawatan di rumah sakit, lalu terjatuh di kamar ketika akan menunaikan Salat Asar.

Suamiku tak bersuara, hanya membiarkan hingga tangisku mereda tanpa menghentikan usapannya. Direngkuhnya aku ke pelukannya. Dibenamkan kepalaku ke dada lalu dielusnya, kecupan ringan diberikan sebelum ia meridai aku.

“Aku paham, Non khawatir akan kesehatan mamih. Memang sudah seharusnya, Non yang jaga dan merawat mamih. Siapa lagi yang mampu? Karena hanya Non yang bisa sabar dan mengerti mamih,” aku meresapi perkataan suamiku, kemudian ia berkata lagi, “Aku nggak apa-apa di Bekasi sendiri. Berangkatlah dan rawat mamih dengan tangan Non sendiri.”

Dalam diam, aku bersyukur, Allah memberikan rida lewat rida suamiku. Maka terangkatlah beban pikiranku saat itu juga. Rasa bimbang karena harus berbakti pada suami dan juga pada orang tua. tak lagi menghalangi keputusan untuk berangkat ke Jatinangor, lalu menetap sementara di rumah orang tua. Kami berdua telah siap menghadapi kehidupan rumah tangga yang terpisah sementara, demi berbakti dan meraih rida Allah.

Terima kasih imamku, rida darimu meringankan langkahku untuk bermesraan dan menikmati ladang pahalaku.

Rumahmediagrup/laksmisagita

4 comments

Comments are closed.