Ladang Pahala (bagian 3)

Ladang Pahala (bagian 3)

[Mbak Git, tiap lewat rumah kelihatannya sepi terus. Lagi di mana?]

Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel, ketika saya sedang menikmati kopi pagi di Jatinangor. Di sinilah saya tinggal sejak dua bulan terakhir. Menemani, mendampingi dan merawat orang tua.

Bagaimana rasanya meninggalkan kehidupan di Bekasi dan menetap di rumah orang tua? Alhamdulillah, nikmat ….

Sungguh nikmat Allah mana lagi yang bisa didustakan. Saya meresapi setiap tindakan yang saya lakukan kepada mamih, ladang pahala saat ini. Membayangkan dulu beliau melakukan hal yang sama ketika saya masih kecil. Kondisi mamih yang harus tirah baring di tempat tidur membuat semua aktifitas sehari-harinya dilakukan sambil berbaring. Saya berusaha cepat belajar menangani mamih dibantu perawat selama masa perawatan di rumah sakit. Bagaimana cara memandikan atau mengganti pamper tanpa membuatnya banyak bergerak dan tidak membuat mamih kesakitan akibat tulang pinggulnya yang retak.

Saya patuhi aturan menu makan serta jam makan mengikuti kebiasaan selama satu minggu perawatan. Sehingga di rumah, saya sendiri yang langsung menyediakan segala kebutuhan mamih dari mulai makan, istirahat, konsumsi obat, buang air kecil dan buang air besar, bahkan terapi pijat pun saya lakukan terhadap mamih.

Tidak adalagi perasaan jijik atau kesal ketika mamih rutin buang air besar di pampernya. Saya beruntung, bisa terbantu dengan kemajuan teknologi jaman sekarang dengan adanya pamper sekali pakai, langsung bisa dibuang. Bisa dibayangkan ketika jaman kecil, mamih membersihkan kotoran saya, lalu mencuci celana dan popok bekas dengan tangannya sendiri.

Tidak adalagi perasaan tidak sabar, ketika suap demi suapan makanan masuk mulut mamih dengan lambat. Asalkan mamih senang hati menyantap makanan yang dimasak dengan bumbu tambahan cinta kasih, saya rela berlama-lama pegal memegang sendok dan piring.

Dengan sendirinya saya menangis dalam hati, ternyata apa yang saya lakukan tidak sebanding dengan kasih sayang yang telah diberikan oleh mamih dan papap terhadap anak-anaknya. Kemudian saya memohon ampun atas dosa dan salah yang telah saya lakukan terhadap orang tua. Pada akhirnya saya bersyukur, Allah memberikan kesempatan untuk merengkuh nikmat, ladang pahala, menghabiskan waktu bersama mamih di masa ia sehat, masa sakitnya hingga nanti ia bahagia.

Sehat terus ya, Mam!

rumahmediagrup/gitalaksmi

2 comments

Comments are closed.