Langkah Praktis Negara Mengurai Kemiskinan Struktural

Langkah Praktis Negara Mengurai Kemiskinan Struktural

Endah Sulistiowati

Dir. Muslimah Voice

Kemiskinan menjadi masalah utama di dunia saat ini. Karena kemiskina bisa menurunkan masalah-masalah yang lain, seperti depresi sosial, tingginya angka kriminalitas, kebodohan struktural, termasuk rendahnya tingkat kesehatan masyarakat suatu negara. Indonesia sendiri saat ini meskipun kaya sumber daya alam, termasuk negara denga penduduk yang miskin lebih dari 115juta jiwa dengan asumsi pendapatan per-hari sekitar 15ribu atau setara 400ribu per-bulan.

Dalam sistem kapitalis sekuler yang notabene adalah saudara kandung demokrasi, membedakan kemiskinan menjadi dua, yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan struktural. Kemiskinan absolut adalah kemiskinan yang dikarenakan individu tersebut tercipta dalam kondisi yang lemah secara akal dan fisik, sehingga dia tidak mampu untuk bersaing mendapatkan harta kekayaan. Sedangkan kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang terjadi karena kondisi negara tidak mampu untuk mensejahterakan rakyat, bisa jadi karena perang, bencana alam, ataupun memang kondisi negara yang miskin.

Untuk menyelesaikan masalah kemiskinan ini, sistem ekonomi kapitalis termasuk apa yang dilakukan pemerinta Indonesia asalah:

1.  Berusaha untuk memacu tingkat produksi demi mengejar kenaikan pendapatan negara, dengan begitu harapannya semua kebutuhan rakyat terpenuhi. Dengan beberapa program unggulan seperti UMKM, serta pemberdayaan perempuan untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Namun hal ini tidak banyak berpengaruh signifikan.  Karena kita tahu, di Indonesia sendiri masalah utama kemiskinan adalah tidak meratanya distribusi kekayaan sehingga menimbulkan tingginya kesenjagan sosial. Termasuk dalam hal ini penyerahan pengelolaan sumber daya alam hanya pada segelintir orang saja.

2. Negara menjadikan pajak sebagai sumber pendapatan utama. Secara teori dari hasil pajak ini akan diberikan kepada rakyat sebaga bentuk pelayanan publik.

3.  Pemberian kompensasi atas pencabutan subsidi secara berkala pada komoditi air, listrik, bbm, dll, dengan memberikan Bantuan Langsung Tunai ataupun program-program sosial yang sejenis. Ternyata pemberian kompensasi untuk rakyat miskin jelas tidak menyelesaikan masalah, bahkan tidak semua rakyat di akar rumput tersentuh program ini. Hasilnya ekonomi tidak bertumbuh, kemiskinan tetap merajalela.

/Islam Mengentaskan Kemiskinan/

Dalam mengentaskan kemiskinan, Islam memiliki cara: pertama, secara individual, Allah SWT memerintahkan setiap Muslim yang mampu untuk bekerja mencari nafkah untuk dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungannya (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 233). Rasulullah saw. juga bersabda:

“Mencari rezeki yang halal adalah salah satu kewajiban di antara kewajiban yang lain” (HR ath-Thabarani).

Jika seseorang miskin, ia diperintahkan untuk bersabar dan bertawakal seraya tetap berprasangka baik kepada Allah sebagai Zat Pemberi rezeki. Haram bagi dia berputus asa dari rezeki dan rahmat Allah SWT. Nabi saw. bersabda:

“Janganlah kamu berdua berputus asa dari rezeki selama kepala kamu berdua masih bisa bergerak. Sungguh manusia dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merah tanpa mempunyai baju, kemudian Allah ‘Azza wa Jalla memberi dia rezeki” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Kedua, secara jama’i (kolektif), Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk saling memperhatikan saudaranya yang kekurangan dan membutuhkan pertolongan. Rasulullah saw. bersabda:

“Tidaklah beriman kepadaku siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan, padahal ia tahu” (HR ath-Thabrani dan al-Bazzar).

Ketiga, Allah SWT memerintahkan penguasa untuk bertanggung jawab atas seluruh urusan rakyatnya, termasuk tentu menjamin kebutuhan pokok mereka. Rasulullah saw. bersabda:

“Pemimpin atas manusia adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus” (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Sebagai kepala negara, Rasulullah saw. menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya dan menjamin kehidupan mereka. Pada zaman beliau ada ahlus-shuffah, mereka adalah para sahabat tergolong dhuafa. Mereka diizinkan tinggal di Masjid Nabawi dengan mendapatkan santunan dari kas negara. Saat menjadi khalifah, Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab biasa memberikan insentif untuk setiap bayi yang lahir demi menjaga dan melindungi anak-anak. Beliau juga membangun “rumah tepung” (dar ad-daqiq) bagi para musafir yang kehabisan bekal. Khalifah Umar bin Abdul Aziz membuat kebijakan pemberian insentif untuk membiayai pernikahan para pemuda yang kekurangan uang. Pada masa Kekhalifahan Abbasiyah dibangun rumah sakit-rumah sakit lengkap dan canggih pada masanya yang melayani rakyat dengan cuma-cuma.

Tidak ada manusia satu pun yang ingin terlahir miskin, apalagi miskin secara absholut. Islam memberikan banyak metode untuk bisa terbebas dari jerat kemiskinan. Namun apakah negara yang sudah terjerat kapitalisme sekuler ini mau melakukannya?

Kesejahteraaan adalah harapan tertinggi manusia dalam hidup di dunia ini. Sehingga individu, masyarakat, dan negara harus bisa bersinergi untuk mewujudkan kesejahteraan ini. Negara, sebagai penanggung jawab tertinggi bisa dihapuskannya kemiskinan harus berusaha maksimal agar semua rakyat bisa hidup layak. Wallahu’alam. []

RumahMediaGrup/endahsulis1234