Latah Virus Corona 

Latah Virus Corona

Saat ini hampir semua negara di dunia terkena serangan virus pembawa maut, yaitu virus corona. Mulai dari negara berkembang, hingga negara maju, tak ada satu pun yang bisa lolos dari virus ini.
Bahkan organisasi kesehatan dunia (WHO) pun menetapkan virus corona sebagai pandemi global.

Media massa maupun media elektronik beramai-ramai membahas corona. Dari sumber abal-abal hingga sumber terpercaya. Apapun isi beritanya, fakta atau hoaks dengan mudahnya sampai kepada masyarakat, tanpa saringan. Beberapa orang pun menjadi latah, sharing without caring.

Keresahan mulai terjadi di tengah-tengah kita. Penjajahan psikis pun dimulai. Mendadak orang saling curiga satu sama lain, sebagai pembawa virus ini. Membuat kebijakan karena kepanikan, bukan kebijakan yang solutif. Curiga dengan pendatang, namun membiarkan kerumunan tetap terjadi di lingkungan sekitar. Apakah virus corona mampu menilai mana pendatang dan yang bukan?

Melarang orang keluar rumah mencari nafkah agar tak mudah terserang virus corona. Lalu bagaimana mereka membiarkan dapur tetap ngebul? Adakah jaminan pemenuhan pangan bagi para pejuang jalan? Bagi orang-orang yang memang waktu bekerjanya banyak dihabiskan di luar rumah.

Jika saja kebijakan keluar rumah diiringi dengan jaminan ketersediaan pangan, tentu masyarakat dengan sukarela akan mematuhi anjuran pemerintah.

Pemandangan lain yang terlihat, orang berbondong-bondong membeli atau membuat cairan desinfektan. Beli hand sanitizer dan mengenakan masker saat keluar rumah. Namun ternyata mereka masih abai terhadap pola makan dan kebersihan sehari-hari. Masih jajan sembarangan, jarang mandi, rumah tidak pernah di pel, dan sebagainya.

Menjaga kebersihan dan mengenakan masker saat keluar rumah itu bagus. Tapi jika tidak diimbangi dengan gerakan menjaga kesehatan dan kebersihan akan menjadi sia-sia. Atur pola makan sehat. Banyak konsumsi sayur dan buah, memilih lauk pauk dengan kadar protein tinggi, konsumsi multivitamin jika diperlukan. Banyak minum air putih. Kurangi membaca berita yang hanya menimbulkan kepanikan. Dan istirahat yang cukup.

Buatlah diri sendiri happy dengan meminimalisir aktifitas di luar rumah. Bukankah memang dari dulu Islam mengajarkan untuk banyak tinggal di dalam rumah? Baity jannati. Rumahku, surgaku. Kebahagiaan itu dekat. Bersama dengan orang-orang yang kita miliki. Belajar saling mengisi satu sama lain. Saling memberikan dukungan psikis bahwa kita mampu melewati ujian ini.

Jika memang harus berjuang di jalanan demi keluarga, maka sebutlah asma Allah sebelum kaki melangkah keluar rumah. Gunakan masker dan hand sanitizer. Sampai rumah jangan lupa segera mandi dan rendam pakaian yang dipakai dengan detergent, sebelum berinteraksi dengan keluarga.

Daripada membiarkan rasa saling curiga mematikan empati, lebih baik mari menguat bersama. Lakukan gerakan hidup sehat dan jaga kebersihan. Kalau daya tahan tubuh kita kuat di dalam satu keluarga, satu desa, satu kota, bahkan satu negara, maka bukan hal yang mustahil kita mampu menaklukkan badai corona bersama-sama.

Hentikan sikap latah corona. Stop penyebaran informasi yang tidak benar. Konsumsi makanan sehat, hidup bersih dan teratur demi kebaikan diri. Bukan karena ikut-ikutan hal yang sedang ngetrend. Sehingga ketika pandemi ini berlalu, kita sudah siap terlahir sebagai manusia baru dengan banyak kebiasaan baik.

Barakallahu fiikum

Kota Bersinar, 31 Maret 2020

rumahmediagrup/siskahamira