Lelaki Kecilku, Menjaga Salat 5 Waktu

Lelaki Kecilku, Menjaga Salat 5 Waktu

Oleh: Ribka ImaRi

Lelakiku kecilku, sekarang usianya sudah 7 tahun 9 bulan. Rajinnya menjalankan salat masih sama dengan saat ia masih berusia 17 bulan, ketika awal lancar jalan dan berlarian.

Saat ini, walaupun sedang libur sekolah dan ayah-bunda izinkan boleh bangun siang, tetapi sangat mudah bangunkan untuk salat subuh, meski setelahnya tidur-tiduran lagi.

Ketika adzan salat dzuhur, Tyaga otomatis ke kamar mandi untuk ambil wudhu. Sekalipun hari libur, tetap diusahakan tidur siang. Namun, saat ditemani tidur, Tyaga tidak jua tidur pulas. Usut punya usut, ternyata Tyaga menunggu waktu salat asar. Lalu saat jelang magrib, Tyaga masih tidur sore, tetapi saat dibangunkan, tanpa keberatan apalagi mengeluh, tanpa komen apapun, ia langsung berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu salat sendiri di saat bunda sedang tidak salat karena sedang menstruasi.

Kemudian, saat waktu isya tiba tetapi Tyaga masih sibuk mengerjakan sesuatu, dengan satu kali diingatkan, Tyaga langsung meninggalkan keasyikannya dan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan segera salat isya sendiri.

Salatnya pun terbiasa menyediakan semua perlengkapannya sendiri sejak usia balita di TK A. Sewaktu bunda membelikannya sarung celana yang dipakai dengan mudah. Pun khusyuk seperti di foto ini sekitar 6 tahun lebih yang lalu. Baduta 17 bulan yang salih, manut, anteng, mengikuti gerakan salat, tidak pakai drama manjat-manjat ke badan bundanya.

Kok bisa? Alhamdulillah bisa. Karena anugerah Allah yang menitipkan anak lelaki yang saleh. Doa yang tak pernah putus memohon kekuatan mengasuh dan mendidik anak menjadi tetap saleh. Tyaga pun terbiasa di sounding bunda yang selalu pamit dengan suara nyaring (bukan dalam hati) sejak ia dalam kandungan, ketika bunda melakukan aktivitas sehari-hari.

Kemudian setelah Tyaga lahir, bunda tetap selalu sounding dan memberi contoh nyata tentang aktivitas ayah bunda sehari. Lalu saat berproses, sebisa mungkin ayah bunda tidak pernah menakut-nakuti atau mengancam tentang hal apapun saat Tyaga sedang tidak tergerak salat. Pun tidak pernah memaksanya untuk ikut kami salat berjamaah.

Kami hanya menanamkan kesadaran dan banyak pengertian kepada Tyaga untuk rajin salat. Sebab Allah Maha Baik sudah memberi banyak keberkahan dalam hidup. Jadi sebaiknya kita banyak bersyukur dengan rajin beribadah. Walaupun dalam proses selama 6 tahun itu tak semudah membalik telapak tangan. Ada kalanya dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi memberi pengertian apalagi disaat bunda sedang menstruasi dan ayah masih belum pulang kerja. Sejak Tyaga baduta, bunda ekstra sounding menjelaskan apa itu menstrasi. Jadi saat Tyaga membesar, sudah dengan mudah diingatkan, “Tolong salat sendiri ya, Nak. Bunda sedang tidak salat, karena sedang menstruasi.”

Namun, kami tetap berusaha Semangat, Konsisten, Sabar dan Telaten (SKST). Hal ini yang selalu kami sematkan di hati, pikiran dan tindakan. Agar saat malas melanda, kembali ingat untuk memberi contoh yang baik. Maafkan kami ya, Nak jika belum menjadi contoh terbaikmu. Alhamdulillah di SD-nya SD Master, Tyaga selalu diajarkan salat berjamaah dan tepat waktu saat salat dhuha dan dzuhur.

Hingga tadi pagi, meski masih libur sekolah, alhamdulillah Tyaga tetap salat subuh tepat wktu. MasyaAllah … tabrakallah … bismillah bisa tetap istiqomah di mana pun Tyaga berada. Kelak, mungkin menjadi anak kos karena harus kuliah di luar kota bahkan luar negeri seperti cita-citamu, jauh dari ayah dan bunda yang tidak melihat aktiviatas Tyaga, tetapi tetaplah taat kepada Allah Swt. Karena ini semua bekal hidup diakhirat nanti. Saleh selalu ya kesayangan ayah bunda. Sekarang PR-nya tinggal lanjut mengasuh dan mendidik Jehan yang masih usia 5 tahun 4 bulan supaya bisa meniru kesalihan masnya. Salehah juga ya adik Jehan. Aamiin.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

rumahmediagroup/ribkaimari

4 comments

Comments are closed.