Lepaskan Harapan, Baru Bisa Terima Kenyataan

Lepaskan Harapan, Baru Bisa Terima Kenyataan

Oleh : Ribka ImaRi

“Yah, foto berdua yuk!” ajakku dengan suara nyaring. Karena disore yang cerah itu kami sedang berada di tengah Alun-alun Purbalingga yang ramai.

Mumpung Tyaga dan Jehan sedang asyik menaiki mobil-mobilan sewa. Jadi aku dan suami punya waktu khusus berdua saja.

“Males, ah!” bisik pak suami di telingaku. Sembari berpose mencebikkan bibir tanda meledek.

Aku yang sudah bersiap sedari awal dan malas berdebat dengan suami, segera berpose dengan memasang senyum terlebar dan termanis.

Tangan kananku terlanjur sudah membuka aplikasi foto dengan jari telunjuk siap menyentuh tombol foto.

‘Cekrek.’ Begitulah bunyi dari aplikasi foto di telepon genggamku.

“Astagfirullah … Ayah mah ga ada romantis-romantisnya! Sekalinya bisa foto berdua malah hasilnya kayak gini,” gerutuku dengan penuh rasa kecewa setelah melihat hasilnya seperti yang terlihat pada foto di sebelah kiri.

Suamiku tetap dengan pose meledeknya. Seakan tak ada hentinya membuatku kesal. Semakin aku kesal, ia semakin senang. Huff … begitulah suamiku. Rasanya tak akan pernah berubah sampai berapapun angka usianya dan usia pernikahan kami.

Aku begitu berharap, sekali-sekali bisa berfoto romantis berdua seperti dulu semasa menjalin hubungan sebelum kami menikah dan punya anak.

Tapi tampaknya harapan tinggallah harapan. Sepertinya tak akan pernah menjadi kenyataan. Setidaknya demikian pikiranku kala itu. Menghakimi suamiku sendiri yang tak pernah mau romantis.

Karena hampir sebagian besar istri, termasuk aku, mengharapkan suaminya berlaku romantis. Meski mungkin untuk hal sepele. Sekadar urusan berpose saja. Apalagi aku yang tak pernah merasakan momen romantis dengan bapak sebagai cinta pertamaku. Jadi seringkali menuntut suami untuk memenuhi kekosongan jiwa masa kecilku.

Tapi apa daya, jika memiliki suami yang pada dasarnya memang tak bisa romantis setiap saat. Daripada kesal sendiri, lebih baik menenangkan hati, “Ya sudahlah … mau gimana lagi. Memang seperti ini kenyataannya. Sudahlah terima saja kenyataan ini.”

Selama bertahun-tahun berusaha menerima, namun rasanya kok tetap sulit menerima kenyataan ini hingga usia pernikahan kami menjelang 9 tahun dan hari ini usianya tepat 38 tahun. Padahal ada banyak peristiwa romantis lainnya yang suamiku perbuat namun tak terekam dalam bingkai foto.

Hanya karena obsesiku yang masih menuntut suami untuk bisa berpose romantis, dengan alami tanpa suruhan apalagi paksaan dariku, seolah lupa dan menutup semua kenangan romantis lain bersama suami. Obsesi itu semakin membuatku meratapi diri, “Payah punya suami ga ada romantis-romantisnya. Diajak foto berdua saja enggak asyik.”

Sampai akhirnya … setelah bertemu dengan Mindfulness Parenting. Sebuah ilmu parenting yang mengajarkan kesadaran untuk bisa melepaskan harapan lalu terima kenyataan.

Jika masih terus saja berharap, maka akan sulit menerima kenyataan. Karena ternyata untuk dapat menerima kenyataan, kita harus berusaha melepaskan harapan.

Secara perlahan-lahan aku mulai belajar melepas harapan. Lepaskan harapan … lepaskan harapan … lepaskan harapan. Lepaskan harapan suamiku akan berubah menjadi romantis seperti keinginanku. Sebab sampai kapanpun keadaan mungkin tak akan pernah bisa berubah.

Namun, responku untuk menerima kenyataanlah yang bisa mengubah keadaan menjadi lebih nyaman. Keadaan suamiku romantis atau tidak, aku terima ia apa adanya. Sejak saat itu aku mulai bisa tak lagi kesal saat suami sedang tak mau romantis.

Dan diluar dugaanku, saat aku sudah bisa santai, tak lagi menuntut suami untuk berpose sesuai keinginanku, justru tanpa beban ia mengeratkan pelukannya. Seperti foto sebelah kanan. Ah, bahagiaku … akhirnya bisa berfoto romantis dengan suami tanpa aku paksa terlebih dulu.

Hal tersebut membuatku tersadar untuk terus belajar melepaskan harapan demi harapan, agar bisa menerima kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Supaya hidup terasa lebih damai sebab tak lagi banyak menuntut. Tetapi menerima apa adanya yang sedang terjadi.

Tak lagi berharap pada siapapun termasuk suami. Sebab bisa saja kecewa. Tetapi berharap sepenuhnya hanya kepada Allah SWT semata yang selalu memberi yang terbaik untuk umat-Nya.

Selamat tinggal tahun 2019, aku siap melepaskan segala harapan yang belum terwujud, aku terima kenyataan-kenyataan yang tidak terealiasi. Aku siap menyambut tahun 2020 dengan doa dan keyakinan bahwa semua rencanaku akan terjadi sesuai kehendak Allah, bukan keinginanku.

-Ribka ImaRi-
Sokaraja, 31 Desember 2019