Lidi Penguak Kejujuran

Saat berjalan di koridor sekolah, Bu Emi tampak tergesa-gesa berjalan ke arah ruangan kelas dua. “Assalammualaikum, ada masalah? suara kalian terdengar hingga ke ruangan guru,” tanya Bu Emi dengan mata menelisik. “Uang jajan Rani ilang, bu. Tiga ribu,” ujar Anto setengah berteriak.

Kejadian ini, sudah beberapa kali terjadi, sebagai wali Kelas Bu Emi telah berusaha mencari tahu sebenarnya siapakah yang telah mengambil uang jajan siswa-siswanya di kelas. Mengingatkan, menasihati dan bahkan memberi contoh akibat jika mengambil sesuatu tanpa izin pada yang punya. Namun sepertinya masih belum ada yang mengakuinya.

Keesokan harinya Bu Emi mengajar seperti biasa berharap hari ini tak ada lagi kejadian seperti hari-hari sebelumnya. Sebelum menutup pelajaran Bu Emi memegang lidi, “Bu Emi punya lidi, kalian semua akan mendapatkan lidi ini. Panjang lidi ini sama semuanya. Jika yang menerima lidi ini jujur maka lidi ini panjangnya tak akan berubah, namun jika yang menerima lidi ini tak jujur suka mengambil barang teman maka lidi ini akan menjadi panjang,” terang Bu Emi.

“Seperti Pinokio ya bu, jika bohong hidungnya panjang,” teriak Aline sambil tertawa diikuti teman-temannya. “Betul Aline, silakan lidinya di bawa pulang. Besok dikumpulkan ya, Ibu ingin tahu lidi siapakah yang bertambah panjang,” ujar Bu Emi.

Keesokan harinya Bu Emi mengabsen satu persatu dan meminta siswa-siswanya mengumpulkan lidi yang dibagikan kemarin. Anto, Rani dan Aline mengumpulkan lidinya dimeja bu Emi dan panjangnya tak berubah. Giliran Vani, lidi yang dikumpulkan ternyata berubah menjadi lebih pendek.

Waktu istirahat tiba Bu Emi memanggil Vani, “Apa yang terjadi dengan lidimu Vani?” tanya Bu Emi. “Aku patahin bu. Aku takut lidinya tambah panjang jadinya aku patahin deh,” terangnya dengan intonasi datar dan raut polos wajahnya. “Jawab dengan jujur ya. Jadi selama ini …” belum selesai Bu Emi bicara Vani dengan jelas berkata, “Aku yang ambil uang jajan teman-teman bu. Aku kesel sama mereka, mereka gak pernah ngajak aku main.”

“Uangnya aku taruh dibawah pot di lapangan,” jelasnya masih dengan intonasi yang datar. Bu Emi menasihati, “Sebaiknya bicara yang jelas dan baik, jika Vani ingin bermain bersama. Mungkin mereka tidak tahu jika Vani ingin bermain bersama. Tapi selama ini, apakah ada teman yang nakalin Vani ?”. “Gak ada sih bu. Jadi aku harus bicara dengan mereka jika ingin bermain bersama mereka?” tanyanya. “Sebaiknya begitu, tidak diulangi lagi ya nak. Semuanya bisa dibicarakan baik-baik,” terang Bu Emi. Vani menjawab dengan anggukan dan senyuman, Bu Emi mengelus kepala Vani dengan penuh sayang.

rumahmediagrup/ She’scafajar

7 comments

    1. Sebenernya ini juga kisah nyata di sekolah saya, mbak Ribka Imari … kejadiannya baru beberapa hari yang lalu .

  1. Waah masyaAllah Mbak Sisca…jadi kisah nyata yg sama persis ya mbak.padahal kejadian suamiku dikelasnya itu 20 tahun lalu

    1. Betul mbak Ribka … Cuma menjadi kontroversial terkait penggunaan lidi sbg media menguak kejujuran … 😶

  2. Mantaabbb..untungnya lidi ya. Bukan sosis. Klo sosis ntr pada habis. Hehee… Iya, memang saat kecil banyak kejadian nyata dengn lidi.

Comments are closed.