Linn’s Memory

Linn’s Memory

“Selamat pagi, sayang” kalimat itu selalu terdengar saat kubuka mata setelah mimpi indah. Ayah selalu sudah mandi dan menyiapkan segelas susu coklat dan sarapan di meja. Seragam merah putihpun sudah tersedia di atas meja belajar bersebelahan dengan tas sekolah. Hmm..ayah memang selalu begitu. Ia selalu sempurna di mataku. Ia selalu siap dengan segala sesuatu yang aku butuhkan.. sejak ibu pergi untuk selamanya meninggalkan kami berdua.

Kami meninggalkan rumah mungil di sebuah barak militer. Di pulau kecil ini hanya tersedia barak atau kompleks perumahan sederhana untuk para tentara yang menjaga dan mengamankan pulau yang indah dan menjadi salah satu tujuan wisata terfavorit di negeri ini. Kontras dengan keadaan kami, tak jauh dari barak sempit dan sederhana itu terdapat hotel-hotel berbintang, villa dan apartemen lengkap dengan segala fasilitas berkelas seperti taman bunga, kolam renang, lapangan golf dan lain-lain.

Kami biasanya berjalan sebentar menuju halte kecil dan menunggu bus tentara yang akan mengantar kami ke bagian lain pulau ini. Tak berapa lama bus berwarna hijau itu datang. Ayah mengangkat tubuhku ke dalam bus setelah itu ia sendiri melompat ke dalam bus. Ayah terlihat sangat gagah dengan seragam yang dipakainya. Karena lokasi kami yang paling jauh maka tak jarang kami tidak kebagian bangku. Biasanya aku berdiri sambil memeluk tubuh ayah erat sambil menikmati keharuman tubuhnya yang segar.

Seperempat jam kemudian bus berhenti di sebuah pos penjagaan. Ayah turun dan menggendongku turun dari bus, disinilah kami harus berpisah. Setelah mencium keningku ayah kembali melompat ke dalam bus yang akan membawanya ke markas militer yang jaraknya kira-kira 10 km dari tempatku berdiri. Aku segera berjalan menyusuri trotoar menuju sekolah yang tidak begitu jauh dari tempat ini. Sampai di persimpangan yang memisahkan jalan utama dan jalur menuju sekolahku, mataku memandang ke kanan dan akhirnya aku memutuskan memotong jalan melewati sebuah kebun kecil di pinggiran sebuah lapangan golf bertaraf internasional. Ada jembatan kayu kecil melintasi sebuah sungai buatan yang sangat indah. Beberapa pohon pinus dan akasia membuat mata sejuk saat memandangnya. Ayah sering melarangku melewati jembatan itu sendiri karena sepi dan takut ada anjing liar yang sering melintas di jalur ini. Memang ada hutan lebat di seberang lapangan golf ini, tetapi aku tidak merasa takut bahkan aku sangat menikmati keindahan tempat itu.

Kaki kecilku biasanya berhenti sebelum melintas jembatan kayu karena di sebelah kiri tepatnya di bawah pohon pinus terdapat tanaman buah yang sangat indah. Tanaman buah yang biasa kusebut terong susu itu sedang berbuah..ahh….warnanya yang kuning cerah dan bentuknya yang unik seperti susunya sapi kadang membuatku geli. Aku selalu ingat kata ayah untuk tidak memetik tanaman liar, entah mengapa ayah sangat khawatir dengan serangga yang mungkin akan menggigit kulitku, padahal aku tidak pernah takut atau jijik dengan serangga-serangga itu, bahkan diam-diam aku sering memegangnya. Ah..kalau ayah tahu pasti ia akan marah..

Aku berhenti memandangi saja terong susu itu dengan takjub..kemudian meneruskan langkah kaki melewati jembatan. Sekali lagi aku berhenti memandangi air jernih di sungai kecil itu. Kalau tidak mau sekolah ingin rasanya aku nyemplung ke sungai jernih itu, sayangnya 30 menit lagi bel berbunyi. Lalu kutinggalkan jembatan kayu dan terus melangkah menyusuri jalan setapak yang sejuk. Tangan mungilku memetik beberapa tangkai bunga azalea liar di sepanjang pagar yang memisahkan kebun pinus dan lapangan golf.

Tak jauh dari pohon pinus terakhir yang kulewati terdapat pintu pagar besi sekolahku. Pintu itu selalu terbuka di pagi hari, selain sebagai pintu alternatif untuk para siswa biasanya dipakai untuk keluar masuk para pemilik kantin mengangkut makanan dan minuman dari rumah mereka.

Selamat pagi sekolahku. I am Linn…. this is my childhood memory when I was 9 years old.

rumahmediagrup/alinawidya29