Lucky Sukro

Lucky Sukro

Lucky berdiri sambil menepuk-nepuk celana panjangnya yang kotor untuk menghilangkan tanah yang menempel. Peluh menetes di dahi segera dilap dengan punggung tangannya. Ia tersenyum lebar sambil berkacak pinggang melihat hasil kerjanya hari ini, membereskan dan menata ulang tanaman di halaman rumah. Rasanya puas setelah hampir dua jam bercengkrama dengan semua tanaman kesayangan.

“Hei, Bu Suk, kenapa senyam-senyum sendiri gitu, hei!” seru Mpok Ike menyapa dari luar pagar sambil tertawa.

Terkejut mendengar panggilannya, membuat senyum Lucky berganti cemberut, “Apaan sih, Mpok? Mau ape dateng kemari pagi-pagi?”

“Dih, Bu Suk, galak amat. Ini loh, mau ngasih undangan kerja bakti buat Pak Sukro. Hari Minggu, sekalian silaturahmi dan arisan rt. Kita makan siang rame-rame. Mau datang nyumbang makanan juga boleh. Jangan kagak dateng, ye,” cerocos Mpok Ike dengan logat betawi yang nyaring sambil menyodorkan kertas undangan.

Lucky bergegas menghampiri ke pagar dan menerima undangan kerja bakti dari Mpok Ike, “Makasih, Mpok. Nanti disampein ke suami saya.”

“Iye, tapi Bu Suk dateng juge. Saya pamit, ye. Mau lanjutin keliling, Dadah Bu Suk.” Tanpa menunggu jawaban, Mpok Ike balik badan menuju rumah tetangga lainnya.

Lucky masuk rumah sambil menggerutu kesal dengar sapaan tadi. Memang nama suaminya adalah Sukro Atmojo, pria Jawa tulen yang menikahi dirinya dua bulan lalu. Ia kerap dipanggil dengan sapaan Bu Suk, tetapi ditelinganya panggilan itu terdengar seperti kata busuk.

Sore hari ketika Sukro pulang kerja, Lucky masih memasang muka masamnya. Sukro paham, pasti ada yang membuat istrinya kesal. Setelah berganti pakaian rumah, Sukro duduk di ruang keluarga sambil mengganti saluran televisi mencari siaran berita.

Secangkir kopi disodorkan Lucky pada Sukro, kemudian ia ikut duduk. Setelah menanti pria disampingnya ini selesai menyesap kopi buatannya, Lucky mulai merajuk.

“Mas, Hari Minggu ada undangan silaturahmi rt. Gimana kalau sekalian kita bikin bubur merah putih?” Ujarnya perlahan tanpa ragu

Setengah berpikir, Sukro menanggapi permintaan istrinya, “Hah, kenapa bubur merah putih?”

“Aku mau kita ganti nama saja. Karena aku merasa selalu dihina, Mas.” Lucky memasang wajah memelas, “orang-orang selalu menyapa aku dengan nada kurang ajar, karena nama Mas Sukro, akhirnya aku dipanggil busuk!” lanjut perempuan manis berhijab ini dengan suara lirih.

Mendengar penjelasan Lucky, Sukro terbahak-bahak.

“Loh, Mas koq ketawa, sih. Coba mas pikir. Bagaimana kalau semua tetangga tahu nama asli aku, apa coba sapaan yang akan mereka sematkan buat aku? Ayo apa, Mas?” tanya Lucky dengan wajah serius

“Buluk,” jawab Sukro dengan tawa tertahan

Perempuan cantik ini bersungut-sungut dibarengi dengan tawa Sukro yang keras membahana, “Nah, betul, kan. Sudah busuk, buluk pula.”

rumahmediagrup/gitalaksmi

3 comments

Comments are closed.