Luka Batin Akibat Body Shaming Menjadi Salah Satu Pemicu Ledakan Kemarahan Seorang Ibu

Luka Batin Body Shaming Menjadi Salah Satu Pemicu Ledakan Kemarahan Ibu

Oleh: Ribka ImaRi

‘Kayak anak kecil ya ….” celetuknya di depanku saat aku menunjukkan foto pernihanku dan suami yang belum lama terlaksana di kampung halaman suamiku.

‘Makany Om, jangan nikah sama anak kecil,’ celetuknya lagi ketika aku berpamitan akan menjalani operasi caesar sectio untuk melahirkan anak pertamaku karena diagnosa bayi melintang akibat pangggul sempit.

“Ari-arinya ketinggalan di dalam (rahim) kali.” Sewaktu aku bertanya kenapa perutku masih gendut selepas seminggu paska melahirkan Tyaga di Maret 2012.

Masih banyak lagi kalimat lain yang sekadar celetuk darinya seakan dengan ringannya terlontar tetapi begitu menancap dan perih dalam hatiku.

Sejak mengenal Mindfulness Parenting dari Mentor Bapak Supri Yatno di Agustus 2016 aku tersadar bahwa luka batin akibat body shaming dari tetanggaku itu menjadi salah satu penyebab yang memicu ledakan amarahku kepada kedua anakku.

Sulit … aku pernah sangat sulit memaafkan beliau. Setiap kata-katanya terngiang ditelingaku membuat ulu hatiku nyeri tak tertahankan. Seketika membuatku menjadi monster tak terkendali.

Ya, dulu body shaming itu pernah membuatku sangat membenci perutku yang makin buncit setelah melahirkan dua anak. Terlebih sejak Jehan lahir di Agustus 2014 aku merasa depresi.

Aku menarik diri dari lingkungan ibu-ibu di perumaham. Aku tidak percaya diri keluar rumah tanpa korset. Ketika habis melahirkan Jehan, aku berusaha memperbaiki bentuk perutku dengan membeli pengencangkan atau mengecilkan perut dengan merk ternama kozu*.untuk mengecilkan perutku.

Namun, tetap saja tak ada perubahan berarti. Aku merasa lelah memakai kozu*. Terlebih aku lelah teringat kata-kata body shaming itu. Selalu saja terngiang. Aku sangat ingin membeli obat yang bisa melumpuhkan ingatanku. Karena aku benar-benar ingin melupakan. Namun, sangat sulit. Semakin aku ingin melupakan, semakin aku mengingatnya.

Bertahun lamanya aku berjuang sendirian untuk belajar MENERIMA DIRI SENDIRI APA ADANYA dengan berjuang mengobati LUKA BATIN BODY SHAMING yang diucapkan tetangga depan rumah sejak tahun 2012. Namun semua luka itu baru bisa pelan-pelan aku obati di akhir tahun 2016 dengan teknik ACCEPTANCE dari Mindfulness Parenting pelan-pelan aku berusaha menerima semua omongan dari tetanggaku itu. Termasuk menerima kata-kata yang tidak bisa aku terima.

Lalu dengan pelan-pelan pula aku berusaha MELEPASKAN kata-kata yang memang tidak bisa aku terima. Terlihat sangat rumit. Benar-benar tak semudah membalik telapak tangan sambil bergurau, “Sudahlah terima aja omongan nylekit dia.”

Tak semudah itu Esmeralda! Namun aku terus berjuang mengasuh jiwaku yang terluka batinnya.

Karnea aku benar-benar pernah membenci tetangga depan rumahku itu. Hingga akhirnya sekarang aku bisa menerima, melepaskan dan memaafkan semua celetukannya. Ini mukjizat dari Tuhan.

Butuh waktu 7 tahun lamanya seiring usia Tyaga sejak lahir di Maret 2012 sampai akhir tahun 2019, ketika aku benar-benar bisa melepaskan luka body shaming itu.

Kemudian pada akhirnya aku bisa melepaskan ketergantungan pada kozu* ini. Pun, membuatku bisa menerima keadaan kala suami atau kedua anakku memegang perutku. Tadinya aku bisa mengamuk seperti orang gila saat mereka memegang-megang dan memainkan perutku yang lucu bagi mereka karena bergelambir.

Bahkan Jehan, putri keduaku pernah aku hempaskan saat mementil pusarku yang bodong (keluar) dan meraba perutku yang bergelambir. Bagi Jehan itu mainan yang lucu. Sedangkan bagiku, sangat menjijikkan mempunyai perut bergelambir.

Ya, aku pernah sangat membenci bentuk tubuhku sendiri. Namun setelah luka batin akibat body shaming itu sembuh, aku bukan saja bisa menerima apapun keadaan bentuk tubuhku tetapi aku sudah bisa melepaskan ketergantunganku pada korset.

Radical Acceptance (penerimaan mendasar) untuk tubuhku membuatku tidak lagi merasa malu jika orang membicarakan bentuk perutku. Terserah orang mau bicara apapun tentang diriku. Aku akan tetap menerima tubuhku apa adanya.

Aku terus belajar membangun citra diri positif. Meski harus terseok-seok karena citra diriku telanjur negatif akibat luka penolakan dari bapakku.

Ya, akhirnya kudapati penyebab luka batin itu berakar dari pola asuh kedua orangtuaku yang pernah menolak kehadiranku sebagai anak. Jadi memperparah luka batin body shaming dari tetangga.

Syukur alhamdulilah setelah semuanya tergali, terurai dan Allah menolongku menemukan akarnya, akhirnya aku jadi bisa memaafkan semuanya sampai keakar-akarnya.